Aku kira ini bukanlah suatu masalah yang pelik. Aku kira ini hanya masalah sepele. Hanya tinggal mengatur sedikit emosi kita, maka jadilah! Tapi ternyata ini beda! Ini lebih rumit dari yang dibayangkan! Hal itu selalu mengaduk-aduk hatiku, membuatku mual! Tapi ini menyenangkan, membuatku melayang… aku menikmatinya. Tapi di saat yang bersamaan juga menolaknya.
Aku terdiam terpaku. Di malam hari yang begitu gemerlap itu, ia mengatakannya. Tiga kata. Hanya tiga kata! Tapi…efeknya membuatku tidak tidur selama tiga malam! Kata-kata yang dulu aku kira hanyalah…argh! Tidak tahulah apa namanya! Tapi tiga kata itu mengaduk-aduk perutku, mengacak-acak memoriku, membuatku tidak dapat berpikir jernih. Tiga kata itu membuat mataku perih, berkali-kali menangis, berhari-hari tidak tidur. Tiga kata itu menyiksaku! Tapi tiga kata itu begitu manis memabukkan…dan ketika tersadar aku telah jauh terjerat.
“Aku cinta kamu.” Ucapannya begitu santai, tapi cukup untuk memicu jantungku berdetak lebih cepat hingga aku kira jantungku akan segera berhenti karena kelelahan berdetak.
Aku terdiam. Mematung. Di malam yang gemerlap itu, aku pulang dengan gemetar. Tidur pun tidak nyenyak. Berkali-kali tiga kata itu terulang dalam benakku. Ya Allah, kenapa urusan hati ini begitu rumit? Astaghfirullah…
Ya…Muqallibul qulub tsabbit qulubuna ‘ala dinika wa tho ‘atika…
***
Malam itu…
Sepulang dari rapat panitia acara pentas seni sekolah yang diadakan tiap semester itu aku bertemu dengannya. Dia menungguku. Duduk diam di depan pagar rumahku. Aku tercengang. Terkaget-kaget.
Melihatku sampai di depan rumah dia menoleh padaku dan berdiri.
“Kenapa? Kok di sini?” tanyaku.
“Aku nungguin kamu ”
“Nungguin aku? Kenapa?”
“Aku mau ngomong!”
“Kenapa nggak besok aja di sekolah? Lagian ini udah malam, udah jam sembilan. Kamu nungguin dari tadi?”
“Yah…belum lama kok! udah sekitar dua jam yang lalu lah…” dia tersenyum manis.
“Yeee…itu sih udah lama! Di dalam aja deh…biar enak.”
“Nggak kok. Cuma sebentar aja. Nggak lama. Kalau besok, aku takut nggak sempat…”
Aku mengerutkan keningku. Heran. Dia menungguku selama dua jam hanya untuk-‘ngomong sebentar’?
“Yaudah, apaan?” aku menunggu. Dia terdiam. Tiba-tiba senyumnya hilang. Wajahnya berubah menjadi tegang. Dia menarik nafas dalam-dalam. Dan raut mukanya menjadi santai kembali. Tersenyum dengan senyumannya yang paling manis.
“ Ra’, aku cinta kamu.” Aku terdiam. Tercengang. Seketika itu juga, degup jantungku menjadi lebih cepat.
“Ee….?” Aku bingung mau berkata apa.
Tiba-tiba sebuah ringtone HP terdengar dari arahnya.
“Eh, bentar ya Ra!” Selama ia menelpon entah siapa, selama itu pula jantungku berdetak lebih cepat. Aku msih tak mempercayai apa yang barusan ia katakan.
“Eee, yaudah Ra’. Cuma itu kok. Aku pamit ya…Assalamu’alaikum.” Ucapnya sembari menelungkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Kemudian segera pergi meninggalkan Rara yang masih tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
Aku masuk ke dalam rumahku dengan perasaan tak karuan. Besok, ya besok! Besok harus kutanyakan padanya perihal ini! Bathinku.
Usai shalat Isya’ dan witir aku mencoba memejamkan mataku. Tapi tidak bisa! Tiga kata yang diucapkannya tadi selalu terngiang dalam benakku, membuatku sesak setiap kali mengingatnya. Astaghfirullahal Adzhim… lafadzhku memohon ampun pada Allah. Ingat Ra’! Jaga hati! Teriakku dalam hati.
***
Semalam Rara benar-benar tidak tidur. Akhirnya, usai shalat Shubuh ia bisa juga tidur selama sekitar satu jam. Ah…benar-benar deh! Urusan perasaan adalah urusan yang paling dibenci Rara. Ia sudah sering mewanti-wanti teman-temannya agar tidak terlibat urusan seperti itu selama ia SMA, karena menurutnya anak SMA itu masih kecil. Masih belum mapan untuk merasakan cinta. Masih terlalu rapuh. Dan sekarang, lihatlah! Ia kena batunya! Kalau sudah begini, kemana ia harus melangkah?
Rara berjalan dengan gontai ke sekolahnya. Sepanjang jalan tadi, ia memikirkan bagaimana ia harus memulai berbicara padanya. Juga bingung bagaimana memanggilnya. Setahu Rara, Rara bukanlah orang terlalu suka bergaul sama anak cowok. Takut malah! Kalau nggak benar-benar penting, ia nggak akan ngomong sama anak cowok. Lha, kok sekarang malah ada yang ngomong cinta sama dia. Aduh! Gawat nih…sepintas tadi ia teringat kata-kata Shabrina “Aku tuh anak Rohis yang parah Ra’. Aku udah bikin berapa anak cowok ngmong suka ke aku coba…Seandainya, aku bisa lebih jaga sikap, mungkin, nggak bakal kayak gitu Ra’…”. Rara tertegun. Berarti aku udah termasuk parah dong? Bathinnya berkecamuk. Ah! Sudahlah! Rara nggak mau ambil pusing!
Rara segera ke kelasnya yang terletak di ujung koridor ini. Di sana ia segera mencari-cari dia. Tengok kanan-tengok kiri.
“Cari siapa Ra?” Tanya Abid, ketua kelasnya.
“Itu Bid, Rakha udah datang belum, Bid?”
“Ohh Rakha. Kamu nggak tau ya? Kemarin itu hari terakhir Rakha di sini.” Jawab abid santai.
“Maksudnya apa Bid?” Tanya Rara heran.
“Rakha pindah hari ini ke Singapur. Jauh ya?” Jawab Abid lagi, kali ini sambil cengengesan. Dalam hati, Rara jengkel juga sama Abid. Nggak liat apa aku panik nyariin Rakha, eh si Abid malah cengengesan sambil dengan santainya bilang kalau Rakha udah pindah.
“Kamu yakin, Bid?”
“Seratus persen yakin Ra’!” wajah Abid menunjukkan keyakinannya yang katanya seratus persen itu. Hhhhhhh… Rara menghela nafas. Ya Rabb, gimana ini?
Selama pelajaran berlangsung Rara tidak bisa konsentrasi penuh. Apalah itu antigen! Apalah itu sudut elevasi dan depresi! Apalah itu kesetimbangan! Ah, yang Rara tahu tiga kata yang diucapkan Rakha semalam selalu terngiang dalam benaknya! Ya…Rahman, jangan sampai aku juga masih teringat dengan kata-kata itu dalam setiap shalatku…
***
Sekarang, Rara benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Nomor telepon Rakha yang ia dapat dari Novi, sekertaris kelas, tidak dapat dihubungi. Nomor HP nya apalagi nomor rumahnya! Rara menghempaskan dirinya di kasurnya. Ia menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi bintang-bintang yang glow in the dark itu. Ia mengingat-ingat setiap kejadiannya bersama Rakha di sekolah.
Waktu kelas satu, ia tidak dekat dengan Rakha, tidak kenal malah! Baru kelas dua ini ia kenal Rakha. Sejak ia sekelas dengannya. Terus? Kita jarang interaksi kok…Apa ya? Paling pinjem pulpen. Mmmm…pinjem penghapus? Terus apalagi? Rara memutar lagi memorinya selama beberapa bulan terakhir.
Kalau Cuma interaksi yang gitu-gitu aja, gimana dia bisa…Argghhh! Aku nggak ngerti ah! Rara menyerah. Ia beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi. Ambil wudhu, kemudian shalat Isya’. Sialnya, dalam shalat nya, terngiang lagi kata-kata Rakha malam itu. Rara terdiam usai shalatnya. Ia berdiri lagi. Mencoba mengulangi shalat Isya’nya yang sama sekali nggak khusyu’ itu. Ah bodo ah! Teriak Rara dalam hati sembari menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan masih mengenakan mukenanya.
Dan malam itu akhirnya Rara dapat terlelap tidur setelah berhari-hari ia terganggu dengn tiga kata itu.
***
Hari ini Rara sudah mencoba melupakan Rakha dan kejadian malam itu. Toh, mereka nggak akan bertemu dalam jangka waktu yang panjang, insya Allah. Jarak Jakarta-Singapura kan nggak kayak jarak Jakarta-Bandung. Jauuuuuuhhhh. So, kenapa mabil pusing?
Hari ini, normal. Kembali seperti semula. Rara bisa konsentrasi ke pelajarannya. Rara sekarang ngerti apa itu Aglutinasi, apa itu sudut depresi, atau pun kesetimbangan yang beberapa hari lalu dipelajarinya.
Ahhhh…Akhirnya Rara bisa bernafas lega. Kejadian itu tidak lagi mengganggunya kini. Mungkin, Rakha salah kali…pikirnya, berhusnudzhon.
***
Malam itu bintang terlihat begitu indah. Langitnya cerah. Tidak lagi mendung seperti kemarin-kemarin. Jarum jam di dinding kamar Rara menunjukkan pukul dua belas malam ketika Rara selesai mengerjakan tugas makalah yang harus dikumpulkan besok. Hoaaaaaammmm…Rara menguap lebar.
Ia baru saja akan beranjak tidur ketika ia mendengar bunyi batu yang dilemparkan ke jendelanya beberapa kali. Rara segera meraih dan mengenakan jaket dan jilbabnya. Ia membuka gordennya sedikit. Mencari sumber batu dilempar. Pluk! Sekali lagi batu menyambar kaca jendela Rara. Untung nggak pecah! Bathin Rara. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka lebar-lebar jendelanya, tidak peduli nyamuk-nyamuk masuk ke dalam kamarnya.
Ia tercengang dengan apa yang ia lihat. Ia mengucek matanya untuk mengecek kalau ia tidak bermimpi.
“Rara! Turun dong!” Ucapnya di bawah sana.
“Rakha? Kamu ngapain malem-malem begini?” tanya Rara masih tidak percaya. Ia segera berlari turun dengan mengendap-endap, takut Abinya bangun. Bisa berabe kalau abinya tahu Rara ketemuan malam-malam dengan anak cowok pula!
“Kamu bukannya udah berangkat ke Singapur Kha?” Tanya Rara sesampainya ia di bawah.
“Nggak. Masih besok kok. Aku Cuma mau nng…gimana ya ngomongnya.” Rakha menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
“Sebelumnya maaf ya malem-malem gini…” Ucap Rakha akhirnya.
“Ng, aku juga belum tidur kok Kha’. Baru selesai ngerjain makalah.” Ucap Rara sambil melempar senyum. Ah! Senyum itu! Senyum itulah yang selama ini bikin hati Rakha kebat-kebit. Sekalipun ia hanya melihat dari jauh. Seandainya Rara tahu…
“Aku…ng…Aku mau minta maaf kemarin udah ngomong yang nggak-nggak…” Kata Rakha lagi masih dengan menggaruk hidungnya yang tidak gatal. Rara masih menunggunya.
“Ohh, aku kira kamu mau ngomong apa. Malem-malem gini…” Ucap Rara enteng, sekalipun dalam hatinya ia masih deg-degan dan terulang lagi kejadian malam itu.
“Tapi, itu aku bener Ra’! Aku nggak bohong! “ Sanggah Rakha. Rara tercengang. Ni orang emang ya seneng banget bikin orang nggak tidur! Bathin Rara dongkol.
“Tapi, itu, aku Cuma mau klarifikasi aja, aku…bukannya minta kamu jadi apalah itu, kekasih atau semacamnya! Nggak! Aku nggak minta itu. Cuma…” Rakha kelihatan bingung dengan apa yang diucapkannya. Nah, apalagi Rara!
“Udahlah Kha’! Jodoh ada di tangan Allah kok… kamu nggak perlu khawatir kamu nggak dapet jodoh…,” Ucap Rara akhirnya setelah merke berdua membisu beberapa saat lamanya.
“Bukan! Bukan itu! Eh…iya! Maksudku itu bener tapi…Ngg” Rakha bingung lagi.
Rara tersenyum. “Toh, kalau aku jodohmu juga, Insya Allah, Allah akan mempertemukan kita lagi kok Kha’…” Ah…senyuman Rara emang selalu bisa menyejukkan hati Rakha. Rakha tersenyum, mengangguk.
“Ah…udah malem Ra’. Makasih ya Ra’…Aku balik. Besok aku berangkat ke Singapura. Semoga kita bisa bertemu lagi. Sekali lagi, makasih Ra’…” Ucap Rakha mengakhiri percakapan tengah malam itu.
“Iya, hati-hati ya Kha’.” Ucap Rara sembari melambaikan tangannya.
“Ah iya. Aku lupa!” kata Rakha yang kemudian membalikkan badannya kembali ke Rara sambil merogoh tas punggungnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
“Ini buat kamu Ra. Bukan apa-apa kok, Cuma hadiah perpisahan. Tanda terimakasih udah mau jadi temen aku.” Kata Rakha sambil menyerahkan sebuah boneka teddy bear coklat. Kecil. Tapi imut. Mata Rara berbinar-binar menerimanya.
“Mestinya kamu nggak usah repot begini Kha’!” ujar Rara sambil menerima hadiahnya.
R akha hanya tersenyum menanggapi. “Udah, tidur gih Ra’. Besok kamu sekolah kan…” ujar Rakha akhirnya.
“Iya. Dah Rakha. Assalamualaikum. Aku duluan ya…” Ucap Rara sambil melambaikan tangannya seraya masuk ekmbali ke dalam rumahnya. Rakha terus memperhatikan Rara hingga ia menghilang di balik pintu rumahnya. Ah…Rara, Rara…Seandainya kau tahu, hati ini sudah lama terpaut padamu.
Rara…Rara…seandainya kau tahu, kejadian-kejadian yang hanya sekadar pinjam pulepen atau penghapus itu terekam begitu kuatnya dalam memoriku…
Seandainya kau tahu, kau sudah membuat hatiku kebat-kebit sejak pertama kali kau tersenyum padaku…
Rara…Rara… Ah sudahlah Kha’! Kalau jodoh juga nggak kemana! Batin Rakha sembari berlalu pergi dari rumah Rara.
***
Rakha
Sore itu, Rakha langsung memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Dia harus mengklarifikasi perkataannya kemarin! Entah mengapa ia yakin kalau ia sudah membuat Rara tidak tidur bermalam-malam karena perkataannya kemarin.
Tapi, malam itu ketika bertemu dengan Rara, pikirannya tiba-tiba blank. Entah apa yang harus is katakan pada Rara. Ah! Lihatlah Rara tersenyum kepadanya. Dia nggak marah. Dia tersenyum. Senyuman yang terus-terusan membuat hari-hari Rakha dipenuhi olehnya.
Ah…Rara…Rara.
Rakha berjalan gontai mencari taxi menuju ke bandara. Dalam hatinya ia berharap bahwa Raralah yang akan menjadi pendamping hidupnya.
***
Rara
Sekembalinya Rara ke kamar, kembali ia tidak bisa tidur. Ah! RAkha…Rakha, hobi banget sih bikin orang nggak bisa tidur! Rara tersenyum memandang teddy bear yang ada di tangannya.
Yah…kalau jodoh mah nggak ke mana! Tegas Rara dalam hati. Kemudian ia terlelap hingga pagi datang.
***
Depok, 26 Desember 2010
23.13 WIB
N.Ch.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar