Jumat, 31 Desember 2010

Dirimu di hatiku....

Dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu…
Meski kau bukan milikku…
                Shafira tertegun membaca setiap kata yang tertulis di chatbox miliknya di facebooknya. Ia membaca nama yang tertera di chatbox itu. Muhammad Naufal. Ni orang… Bathin Shafira.
Shafira  :Nyanyi Lu Fal’?-Enter-
Naufal   :Iya. Kenapa?-Enter-
Shafira  :Kagak. Untung di facebook, kalo nggak, kaca udah pecah kali Fal’.-Enter-
Naufal   :Hehehehe, Tapi, ini bener Shaf. –Enter-
Shafira  :Apanya  yang bener? Kacanya pecah?-Enter-
Naufal   : Dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu…Meski kau bukan milikku… -Enter-
Shafira  : ????-Enter-
Naufal is offline…
                “Ah! Gombal si Naufal! Apa sih maksudnya!” Teriak Shafira kesal sendiri dengan pernyataan Naufal yang nggak jelas itu.
                “Udah ah ngantuk!” Ucap Shafira akhirnya yang kemudian langsung me-sign out­ akun facebook miliknya dan segera merebahkan tubuhnya di kasur. Kalau dipikir-pikir, sampai saat ini sudah 10 kali Shafira di-‘tembak’ sejak ia masuk SMA kelas X. Enam kali waktu masih duduk di bangku kelas X, dan empat kali lagi saat ia duduk di bangku kelas XI ini. Itu yang jelas-jelas berbicara “aku suka kamu” atau “aku cinta kamu” dan sejenisnya. Belum lagi yang nggak jelas kayak Naufal tadi. Entah Cuma sekadar PDKT, tiba-tiba kasih boneka, coklat. Ah! Aneh-aneh deh pokoknya!
                Shafira bingung, emang dia semenarik itu bagi lawan jenis ya? Kayaknya, tampang dia juga nggak cantik-cantik amat. Standar lah untuk ukuran remaja putri. Sikap? Pada dasarnya, Shafira emang supel. Dia bisa berteman, ngobrol, interaksi sama siapa saja, dari segala jenis golongan. Mulai dari golongan tua, muda, laki-laki, perempuan. Di SMA nya saja, siapa sih yang nggak kenal Shafira Naylah?  Senior yang selalu nolongin juniornya, rengking paralel, tim olympiade matematika,ketua ekskul saman, bendahara OSIS lagi!
                Shafira nggak tau aja kalau adik-adik kelasnya bikin Shafira Fals Club! Wow! Agak lebay sih, tapi yang emang gitu kenyataannya. Wajah Shafira emang nggak cantik, tapi kepribadian Shafira menarik bagi orang lain. Hitung-hitung, dengan kepribadiannya itu Shafira jadi selalu dapat bantuan dari teman-temannya kalau dia lagi susah.
                Sudah jam setengah dua belas, tapi Shafira masih belum bisa juga untuk menutup matanya. Kata-kata Naufal di chatbox  tadi terbayang terus di benaknya. Ah! Seandainya itu bukan Naufal, pasti sudah dia lupakan sejak tadi. Tapi ini…Naufal! Muhammad Naufal! Orang yang selalu ada dalam hatinya sejak tiga tahun lalu! Entahlah, Shafira juga tidak tahu mengapa. Virus merah jambu itu begitu saja menyusup ke dalam hatinya. Membuatnya sulit bernafas ketika bertemu Naufal. Membuat jamtungnya berdetak lebih cepat saat nama Naufal disebut. Ah…Naufal…Naufal…
                Mereka satu SD, satu SMP, dan sekarang satu SMA! Bosen? Yah…Sedikit banyak mereka bosen juga sih…dari  11 tahun mereka satu sekolah, 7 tahun mereka sekelas! Kelas 1-4 SD mereka nggak sekelas. Sisanya? Yah…seperti yang diketahui, bahkan sampai detik ini mereka masih sekelas  di kelas XI IPA 2. Satu bagian di Pengurus Harian OSIS lagi! Yaiyalah! Gimana nggak? SI Naufal kan’ ketua OSIS!
                “Udah cukup!” teriak Shafira lagi sambil menutupkan bantal ke wajahnya. Ia memaksakan dirinya untuk tidur.
###
Pesona Indah wajahmu mampu mengalihkan duniaku
Tak henti membayangkan mu
Wajahmu mengalihkan duniaku…
                Lagi-lagi Shafira dibuat tertegun oleh Naufal. Gimana nggak? Lihat kan yang ditulis Naufal di messagebox nya Shafira di akun facebooknya. Tidak Tuhan! Jangan Naufal lagi! Bathin Shafira berteriak.
Comment
Shafira  : Gombal Fal! Gombal! Ketua OSIS gw gombal!
Naufal   :Ye…ini beneran Shaf!
Shafira  :Maksud loe apa sih Fal’?
---
Shafira  :Fal, maksud loe apa sih?
Naufal   :Kalau mau tau maksud gw, besok, dateng aja ke lapangan rumput di belakang komplek rumah loe!
Shafira  : ????
Naufal   :Udah dateng aja! Pulang sekolah. Gw tunggu.
Diam-diam hati Shafira kebat-kebit. Kalau Naufal beneran ‘nembak’ dia, dia harus gimana? Nolak? Nerima? Ah…gimana dong? Shafira emang suka Naufal. Tapi,…entahlah. Shafira sendiri juga bingung harus bagaimana.  Apa gw usah datang aja ya? Lihat besok aja dah!
 Yah…akhirnya, malam ini Naufal sukses membuat Shafira sulit tidur lagi.
###
                Tapi, sore itu sepulang sekolah, ada rapat OSIS dadakan. Ada masalah dengan acara besar OSIS untuk akhir semester ini. Entahlah, masalah dengan pencairan dana OSIS dari sekolah, masalah missedcommunication dengan sekolah, dan segala macam masalah lainnya yang ternyata nggak Cuma sekali rapat langsung beres. Tapi juga harus membicarakan lagi ke pembina OSIS serta bagian kesiswaan. Aduh! Gimana ini? Bathin Shafira kacau. Tapi Naufal nggak bilang apa-apa. Shafira bingung. Ia  penasaran dengan ‘lapangan di belakang komplek’ tapi masalah kebendaharaan masih menumpuk! Ia harus segera merapihkan data kebendaharaan sebelum besok! Kalau tidak bakal lebih lama lagi selesainya masalah-masalah ini. Ah…
                Shafira mencari-cari Naufal. Entah kemana si ketua OSIS itu. Sepertinya usai koordinasi dengan bagian kesiswaan dia menghilang. Kemana dia? Tadi ada pas rapat OSIS.
                “DIO!” Panggil Shafira. Yang dipanggil menoleh. “Liat Naufal nggak?” tanya Shafira.
                “Ng…Dia udah pulang daritadi Shaf’. Katanya ada ‘keperluan penting’. Tapi aku nggak tahu ya… coba cari dulu di ruang OSIS.” Jawab Dio si ketua 1 OSIS.
                “Gimana sih Naufal! Bendaharanya masih ribet, ketua umumnya malah pulang!” Sungut Shafira. Dio hanya tersenyum menanggapi.
                “Masih ada masalah apa Shaf’? Sini aku bantu, udah jam setengah enam, nati kamu nggak pulang-pulang lagi…” Ujar Dio menawarkan diri.
                “Nggak, nggak usah deh Yo’, aku bawa aja ke rumah, udah terlalu sore… duluan ya Yo’!” Ucap Shafira akhirnya dan langsung berlari membereskan arsip-arsipnya kemudian pulang ke rumah.
                ***
                Usai shalat Maghrib Shafira langsung ke meja belajarnya, bermaksud membereskan arsip-arsip kebendaharaannya lagi. Tapi kemudian ia ragu. Entah mengapa ada perasaaan tidak enak dalam dirinya. Sesak rasanya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Setelah menguatkan hatinya ia mencoba kembali fokus. Tapi, ya seperti sebelumnya! Hatinya tidak tenang, entah apa yang mengganggunya.
                Ia berhenti sejenak. Akhirnya memutuskan untuk pergi ‘ke lapangan belakang komplek’ yang disebut Naufal. Tapi masa iya Naufal masih nungguin aku? Shafira menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan keraguan dalam dirinya. Dan segera minta izin untuk beli makanan kecil ke alfamart depan komplek ke ibunya.
                Entah apa yang membuat hati Shafira begitu berdebar tidak tenang sehingga membuat ia berlari menuju ke lapangan. Cepat. Cepat. Ia tidak punya waktu lagi, begitu bathinnya berkata. Cepat. Cepat.
Ahhh…
                Tidak ada siapa-siapa di sana. Tapi, lihatlah! Lihat apa yang telah disiapkan Naufal untuknya. Shafira terpana melihatnya. Terkejut hingga tak dapat berkata apa-apa. Sebuah rangkaian bunga mawar besar berbentuk hati sebesar seperempat lapangan. Shafira melangkahkan kakinya mendekat ke rangkaian tersebut.
                “Ah, adik yang namanya Shafira?” tanya seorang bapak-bapak yangbaru saja datang-mungkin untuk melihat keadaan lapangan.
                “Ah iya pak.”
                “Ini ada surat dari dik Naufal, katanya buat Shafira. Tapi dia baru saja balik. Baru beberapa menit yang lalu.” Kata bapak itu sembari memberikan suratnya ke Shafira.
                “Ah iya, makasih pak.” Ucap Shafira. Ia tertegun dan segera membuka suratnya.
Teruntuk : Shafira Naylah
Shaf, aku udah nungguin kamu daritadi, tapi kamu nggak dateng juga. Aku pikir kamu masih sibuk dengan bendahara. Maaf ya ninggalin kamu begitu aja tadi, tapi aku buru-buru ke sini buat segera nyelesein bunga mawarnya.
Itu buat kamu. Tanda bahwa aku sayang kamu. Sejak dulu Shaf. Sejak pertama kali kamu memanggil namaku. Aku sudah sayang kamu…
Temanmu,
M. Naufal

                Shafira tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia segera berlari. Bermaksud mengejar Naufal. Terus berlari ke arah rumah Naufal. meninggalkan keributan yang ada di tengah jalan. Terus. Berlari. Sampai rumah Naufal…
                “Permisi, tante, Naufalnya ada?” Tanya Shafira begitu ia sampai di depan rumah Naufal dan menemui ibunya.
                “Ah, belum pulang tuh, Shafira. Tunggu di dalam yuk!” Kata ibunya Naufal sembari membuka pintu pagar dan mempersilakan shafira masuk.
                “Sebentar ya Shaf, tante teleponin, biar ia cepet pulang, dia belum pulang daritadi. Katanya ada masalah apa OSIS atau gimana…” Ibunya Naufal segera menelpon Naufal. Hanya saja terlihat lebih panik daripada biasanya. Telpon itu tidak diangkat.
                “Yaudah deh tante, besok aja saya ketemu di sekolah…” kata Shafira akhirnya. Tapi, entah kenapa ia merasa…
                Kriiiiiiiiiiiiiiingggggggg!! Telpon rumah Naufal berbunyi mengagetkan Ibunya Naufal dan Shafira.
                “Sebentar Shaf, mungkin itu Naufal…” Ibunya segara mengangkat telpon.
                “Apa?! Nggak mungkin!!” Brak! Gagang telpon itu jatuh begtiu saja dari tangan Ibunya Naufal.
                “Kenapa tante?!” Shafira segera mendatangi ibunya Naufal yang ternyata sudah menangis dan jatuh terduduk.
                “Naufal!!! Naufal…” Ucapnya tergagap.
                “Naufal kenapa tante?” tanya Shafira yang entah kenapa ikut mengalirkan air mata.
                “Naufal tertabrak truk dan meninggal!!!!” jerit Ibunya Naufal sembari terisak.
                Tiba-tiba apa yang dilihat Shafira semuanya kabur. Dan menggelap. Tidak mungkin Naufal…
                ***
Itu buat kamu. Tanda bahwa aku sayang kamu. Sejak dulu Shaf. Sejak pertama kali kamu memanggil namaku. Aku sudah sayang kamu…


                

2 komentar: