Jogja hari ini basah dengan hujan yang, tumben, tidak putus sejak sebelum adzan dzuhur berkumandang. Rahmat-Nya yang akhir-akhir ini jarang sekali dirasakan oleh warga yang berdomisili di Jogja, termasuk saya.
Hari ini, saya punya cerita..
Semalamnya saya mencari sumber-sumber untuk tugas yang akhirnya nggak ketemu sampai saya sudah hampir frustasi, dan paginya saya berusaha memompa sepeda saya yang ternyata bannya bocor yang akhirnya bikin hari saya penuh emosi yang bergejolak.
Ditambah lagi beban tugas dari suatu acara LDK di ugm ini.. tanggung jawab yang tiada habisnya..keraagu-raguan yang setiap jam malah justru semakin besar...Arrrrgghh... rasanya saya mau meledak sajaaaa!!!!
Entahlah, yang pasti sampai dzuhur tiba, muka saya masih terlipat antara tegang, kaku, dan enggan tersenyum (pati orang yang melihat saya jadi ikutan jengkel, wah.. ternyata saya menyebar energi negatif ya..)
Lalu, jawaban itu datang justru ketika saya bertemu banyak orang yang memang saya butuhkan hari itu, Nikari, Mbak Khal, Fiya, Mbak Hasna, dan yang lainnya, orang-orang di sekelilingku yang senantiasa menguatkan hati...
Pada akhirnya, setelah diskusi dan perenungan yang mendalam, ditambah dengan masukan-masukan, saya membatalkan diri untuk ikut LDK dan memilih melanjutkan niatan saya untuk ikut Roadshow IAIC.. ya ..alasannya sederhana, karena saya ragu-ragu untuk ikut LDK tersebut, dan ketika saya ragu-ragu, saya nggak akan mendapatkan apapun..
Terus tiba-tiba sore itu, ketika 'keluarga cahaya' berkumpul, saya jadi ingat sepenggal kisah tentang mimpi saya sewaktu MTs dulu..
Jadi ceritanya saat saya MTs, saya ikut di tahfidzh club (kalau di UGM mungkin seperti GMMQ), nah, sebenarnya sore ba'da ashar itu jadwalnya muraja'ah hafalan, tapi entah kenapa sepulang dari masjid sore itu saya ngantuk banget dan akhirnya tertidur di lantai kamar sambil memeluk Al-Quran dan dalam keadaan masih pakai mukena.
Tapi, sore itu saya mimpi, Ustadzah Ummu, selaku pembina club dan pembimbing tahfidzh saya berkata dalam mimpi saya itu, 'Dek Setya, nanti kamu muraj'ah dengan syekh Yaser Arafat di taman ya..'. begitulah kira-kira seingat saya.. spontan saya kaget, ini beneran Yaser Arafat yang di palsetina itu? (Setelahnya saya tahu, kalau yang hadir di mimpi saya itu Yaser arafat ketika suatu waktu saya melihat buku di toko tentang biografi beliau dan di sana ada fotonya yang mirip dengan orang yang ada dalam mimpi saya).
Yasudah kelanjutan dari mimpi itu adalah saya jalan ke taman pondok saya dulu dengan sedikit berat, dan ternyata di sana sudah mengantri beberapa teman saya yang juga ingin muraja'ah dengan beliau. akhirnya saya menunggu dengan antar ragu-ragu dan nggak siap buat muraja'ah . Dan ketika sudah dekat giliran saya, saya baru sadar kalau ternyata, yang saya bawa itu adalah al ma'tsurat (semacam buku dzikir pagi dan sore) bukan al Quran.Akhirnya, entah kenapa saya ada sedikit lega karena harus mengulang ngantri, karena saya harus balik ke kamar buat mengambil Al-Quran tersebut.
Di kamar, saat saya mengambil Quran, ternyata ada salah seorang teman saya yang sudah balik dar muraja'ah, dan ketika saya tanya, 'kamu udah muraja'ah', dia menjawab sudah dan entah kenapa (sekali lagi, ini hanya dalam mimpi), dia menyebutkan banyak sekali juz yang sudah dimuraja'ah yang bahkan dalam dunia nyata belum dia hafal. Akhirnya saya malah minder.. saya ragu-ragu untuk balik lagi ke taman buat muraja'ah...
Dan ketika saya ragu-ragu tersebut saya bangun, dan menyesali karena belom sempat muraja'ah dengan seorang pahlawan palestina...
pelajaran yang saya ambil dari mimpi sederhana tersebut ada 2, yang pertama adalah dalam keadaan apapun saya saat ini, siap nggak siap, saya harus siap buat melakukan yang memang sudah jadi tugas saya, tanggung jawab saya, namun dengan tidak dibarengi keragu-raguan, karena pelajaran kedua yang saya ambil adalah ketika saya ragu-ragu saya tidak mendapat manfaat apapun, baik untuk diri saya, apalagi orang lain..:)
So, ayo kita tetapkan hati kita dalam keimanan kepada-Nya, sehingga kita tidak meragukan segala firman-Nya...
Dan akhir dari cerita ini, ketika saya pulang dari kampus malam itu, terguyur hujan.. saya sudah bisa kembali tersenyum...
memang itu seharusnya cerita hidup, happy ending, dan tersenyum di akhir, kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar