Selasa, 20 November 2012

Sebuah Euforia

Halo blog, halo semua.. selamat malam..

Dini hari yang begitu sepi kali ini, selain ditemani tugas yang menumpuk dari kampus, saya juga ditemani permainan piano Yiruma, 'Wait there' . Mengalun perlahan masuk ke telinga saya...

Jadi, ceritanya selama libur tahun baru hijriyyah minggu lalu sepanjang 4 hari, saya menghabiskan waktu di Salatiga dengan sebuah kegembiraan yang meluap-luap, sebuah euforia akan bertemu dengan keluarga Depok, yang dengan sedikit paksaan dari saya, akhirnya melajukan mobil ke Salatiga juga, setelah beberpa kali tidak jadi karena kondisi, baik Bapak maupun Ibu yang tidak memungkinkan untuk menmpuh perjalanan jauh...

Dan ternyata, saat saya tiba kamis siang itu, bukan hanya keluarga saya yang datang, tapi juga keluarga tante saya yang sama-sama berdomisili di daerah Jabodetabek. Selama 4 hari itu, sebagaimana liburan panjang yang di dalamnya berkumpul keluarga, baik jauh maupun dekat, saya melepaskan buku saya, walaupun laporan praktikum menunggu untuk dikerjakan di ransel saya, dan check list anatomi menunggu untuk dihafalkan di bagian lain ransel saya...

Karena momen ini sayang jika hanya dilewatkan di depan buku..., momen yang mungkin hanya bisa didapatkan setahun sekali, saat lebaran idul fitri.

Euforia. Kegembiraan saya meluap-luap tumpah ketika saya melihat wajah-wajah yang sebenarnya sudah sangat saya kenal, namun ternyata waktu saya menilik kembali ke waktu-waktu di belakang saya, saya dan mungkin mereka juga jarang bertemu dengan saya, lebih karena pilihan-pilhan saya untuk sekolah di tempat yang jauh dari rumah..

Euforia. Rasanya ketika melihat wajah-wajah itu, wajah Ibu saya, wajah Bapak saya, Wajah Mbak Uca, dan keponakan saya, Adhia, semua beban dan ketidaksukaan akan pembelajaran di fakultas meluruh... Saya tahu, bahkan sebelum saya masuk fakultas kedokteran, saya adalah harapan mereka...

Kakak kelas saya pernah bilang, waktu saya berkata saya salah jurusan, bahwa paling tidak saya mencari alasan yang bisa membuat saya bertahan di kedokteran sampai waktunya saya lulus nanti, dan seumpamanya saya tidak mampu menemukan motivasi dari dalam diri saya, paling tdak saya mencarinya dari luar diri saya...

Dan saya tahu, yang mampu membuat saya bertahan adalah keluarga saya.. yang sudah banyak saya repotkan dalam proses saya msauk kedokteran, bahkan sebelum SNMPTN tulis tahun ini berjalan...

Euforia. Ketika saya merasakan pelukan hangat dari keluarga Depok, saya tahu.. saya bisa... saya mampu untuk terus bertahan...

Dan sekalipun itu adalah sebuah euforia yang menjadikan 4 hari minggu lalu menjadi seperti mimpi saat saya harus kembali menginjakkan kaki saya di Jogja, tapi saya tahu, saat ini, saya lebih siap untuk belajar di kedokteran, karena ada harapan keluarga saya dalam diri saya..

Dan ini saatnya saya tersenyum saat berangkat kuliah :)
                        ----Semoga Allah meridhoi---------

Sesungguhnya, Allah tidak pernah salah menempatkan kita, jika Allah menempatkan saya di kedokteran, pasti ada alasannya, entah karena Allah saya tahu saya mampu, ataupun karena Allah menyuruh saya belajar untuk mengejar ketinggalan saya sebelumnya, ataupun hal lain..Tapi, Allah menempatkan kita di suatu tempat, kondisi, situasi, pasti ada alasannya... dan itu pastilah yang terbaik untuk kita...:)

Selamat malam semua.. :D
 Selamat tidur...
  

1 komentar:

  1. Dan akhirnya saya tetep nangis sampai selesai menulis postingan ini, dan kemudian membacanya lagi..

    BalasHapus