Di akhir liburan semester ganjil kemarin saya baru menemukan
sesuatu yang waktu saya sadari ternyata sudah kira-kira setengah tahun hilang
dari dalam diri saya.
Seusatu itu diperkuat lagi dengan adanya sms yang dikirim ngeni
waktu aku tanya tentang buku referensi biokimia selain biokimia harper dan
kemudian-tanpa sengaja-kita ngobrolin seorang asdos biokimia (nggak perlu sebut
merk ya... :P), waktu itu Ngeni bilang kira-kira begini, "Beliau itu asdos
biokim paling enak kali, beliau
mengajar karena cinta ..."
Sudah bisa menebak saya kehilangan apa? (bukan, bukan kehilangan
uang, apalagi pacar #eh? :P)
Iya, waktu saya telisik lagi ke dalam diri saya, memutar kembali
memori saya tentang setengah tahun ke belakang selama 1 semester kemarin, saya
menemukan diri saya kehilangan-apa ya menyebutnya- ... 'cinta' atau 'hati'
dalam setiap pekerjaan yang saya lakukan. Tapi, bukan berarti saya mencintai
dunia, sob.
Saya punya pemahaman dan keyakinan kalau ketika kita melakukan sesuatu
haruslah dipenuhi rasa cinta, dan menghadirkan hati di dalamnya, hanya dengan
begitulah pekerjaan tersebut dapat membawa manfaat yang lebih besar, baik bagi
diri sendiri maupun orang lain.
Tapi, ternyata satu semester kemarin saya lempeng-lempeng aja
gitu. Suka nggak, nggak suka juga nggak. Hati saya nggak tertaut di FK ini,
mungkin belum, akibat shock karena keterima (iya lho, dulu saya bener-bener
nggak nyangka saya bisa masuk FK, karena saya mempersiapkan hal paling buruk
yang bisa saya bayangkan, yaitu nggak keterima di UGM, saya sudah menyusun
rencana lain bahkan..., tapi ternyata Allah menghendaki saya di berada di FK
UGM, sesuai dengan harapan keluarga saya, entah itu keluarga Depok, Solo,
Salatiga ataupun Madiun). Jadi, saya kuliah dengan semrawut. Berkegiatan
dengan semrawut. Kebanyakan kerjaan saya kuliah-pulang ke kosan-tidur, atau
main, atau kabur dan menghilang seharian dari sebuah kerutinan yang monoton.
Kemudian, liburan kemarin, saya sadar, satu semeseter kemarin,
kebanyakan saya nggak membawa manfaat banyak, entah itu bagi diri saya sendiri,
atau bagi orang lain. Bahkan mungkin, malah banyak menyakiti hati banyak orang,
dan banyak berbohong pada diri sendiri.
Dan di awal semester 2 ini, yang baru berjalan 1 minggu ini, yang
saya harus lakukan adalah menghadirkan hati dan cinta saya pada setiap kuliah
yang saya jalani, pada setiap kegiatan yang saya lakukan, pada setiap detik
yang saya habiskan di Jogja, jauh kan dari rumah ... kalau nggak membawa
manfaat, sayang dong?
Tapi sebelum semua itu, yang harus saya hadirkan dalam diri saya
adalah pemahaman. Kalau kata seorang ustadzah, hati itu hadir ketika kita dapat
memahami mengapa Allah membawa kita ke dalam kondisi tersebut.
Jadi, sekarang saya perlu tahu dan perlu memahami, mengapa Allah
menempatkan saya di FK. Jawabannya bisa beragam, tapi mungkin yang paling bisa
saya terima adalah, "Karena Allah tahu, dan karena Ia Maha Tahu segala
hal, saya sanggup menjalani setiap kuliah dan aktivitas di fakultas ini"
terlepas dari saya pintar atau tidak. Kemudian, bisa jadi juga "Karena
Allah ingin menguji saya dengan nikmat ini, nikmat diterima di FK".
Sebenernya masih banyak jawaban yang seliwer di pikiran saya yang kayaknya
terlalu berat untuk dipikirkan sekarang, seperti misalnya "Karena Allah
mengingkan saya membawa perubahan ke arah yang baik di fakultas ini".
Tapi, yang satu itu ntar saja saya pikirkan pemahamannya, kalau saya sudah
benar-benar settle di kelembagaan.
Kemudian saya simpulkan ada 2 jawaban buat saya dari pertanyaan,
"Mengapa Allah menempatkan saya di FK":
1. Karena Allah tahu saya sanggup menjalani setiap aktivitas di
fakultas ini,
2. Karena Allah ingin menguji saya dengan nikmat 'diterimanya saya
di FK'
Karenanya, karena ini adalah sebuah ujian, ujian kehidupan
tentunya, jadi saya harus menjalaninya dengan baik, agar Allah tidak
menghinakan saya dengan ujian ini. Saya harus mempersiapkan segalanya dengan
baik untuk ujian ini, sebagaimana saya mau melaksanakan ujian di setiap akhir
blok kuliah saya, di setiap akhir semester saya baik di SD, SMP maupun SMA
dulu.
Hampir saja quit dari halaqoh, kalau saja Allah nggak mengingatkan
saya-dalam bentuk tak langsung tentu saja- berupa perenungan. Urusan halaqoh
ini, padahal Allah telah memberi saya kesempatan kedua untuk memperbaiki
tabiat-sering-kabur halaqoh saya (waktu di MAN dulu, saya termasuk orang yang
sering ngabur halaqoh, makanya saya nggak pernah mau jadi penanggung jawab
kegiatan halaqoh hehehehehe). Kalau saja kemarin saya benar-benar mengungkapkan
pemikiran saya untuk berhenti ikut halaqoh, entah apa yang akan saya dapati.
Mungkin saja, Allah tidak mau lagi memberi saya kesempatan untuk mengkaji Islam
lebih dalam lagi. Atau yang lebih parah, mungkin saja sekarang saya sudah
melupakan kehadiran Allah dalam hidup saya. Siapa yang tahu? Allah selalu bisa dengan mudah
memuliakan hamba-Nya, tentu mudah juga bagi-Nya untuk menghinakan hamba-Nya,
termasuk saya. Na'udzubillahi
min dzaliik .. saya hampir, benar-benar hampir untuk alasan yang sangat, sangat
superficial yang menyangkut pencarian jati diri saya sendiri,,, Astagfirullahal
'adzhim ...
kayaknya memang saya, kita harus memperbanyak dzikir dan
beritighfar. Dan juga berdo'a "yaa muqallibul quluub, tsabbit quluubanaa
'alaa diinika thoo'atika" ... Ya
Allah, yang Maha membolak-balikan hati, tetapkanlah hati-hati kami pada
agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu. Kalau
saja saya nggak senantiasa berdoa itu setiap usai shalat, dan tentu saja
doa-doa dari orang yang saya kasihi, Ibu saya misalnya, mungkin saja Allah
nggak akan memberikan pemahaman kepada saya saat saya menginginkan berhenti
dari halaqoh.
Nah, halaqoh itu kan isinya mengkaji lebih dalam tentang Islam.
Dengan saya mengikuti halaqoh rutin, saya jadi punya bekal untuk menghadapi
ujian yang sedang terlaksana buat saya. Sedikit-sedikit pemahaman saya
dapatkan, terkait banyak hal. Terutama syummuliyatul Islam, bagaimana Islam,
Diinullah dapat membawa saya pada sebuah keteraturan hidup, ketentraman hati
dan kerinduan pada-Nya selaku sang Khaliq, yang telah menghadirkan saya ke
dunia ini melalui Bapak dan Ibu saya (yang sekarang ada di rumah :), Ya...
Allah betapa saya merindukan beliau berdua...)
Dan, tentu saja saya nggak boleh stagnan cuma ikut halaqoh. Untuk
mencapai pemahaman saya butuh ilmu, dan Ilmu itu bisa diambil darimana saja.
Dan saya tahu, di UGM banyak sekali kajian yang digelar oleh lembaga-lembaga
LDF, LDK ataupun lembaga non kampus yang pasti punya banyak manfaat. Jadi,
saya nggak boleh lagi males dan absen bukan karena alasan yang
syr'i untuk datang kajian! Sip, jadi udah satu hal yang masuk ke dalam 'list to
do' saya. Ikut kajian. Semoga dengan ini Allah memberi pemahaman lebih mendalam
pada saya :)
Kemudian, jawaban lain, "karena Allah tahu saya mampu untuk
berada di FK UGM ini". Mungkin sekarang saya belum bener-bener settle di
FK. nilainya masih hancur-hancuran sekadar untuk memenuhi kriteria lulus saja.
diskusi tutorial masih sekadar menghadirkan fisik belaka belum mencapai
menghadirkan hati dan pemikiran. Praktikum masih sekedar memenuhi 100%
kehadiran. Dan lecture, sama seperti tutorial, masih sekedar menghadirkan
fisik, dan sama pula dengan praktikum, masih sekedar untuk memenuhi kuota absen
minimal 75%.
Padahal, kalau Allah saja telah memperkirakan saya mampu dengan
menempatkan saya di FK, masa, saya ragu dengan hal tersebut? Apakah itu berarti
saya meragukan Allah yang Maha Mengetahui segalanya? Astagfirullah... tuh kan,
kadang kala kita tanpa sadar telah su'udzhon sama Allah, meragukan
kehendak-Nya, dan menjudge bahwa hidup terkadang tak adil. Masya Allah,
ternyata kemarin-kemarin saya futhur banget ya? (*parah banget baru sadar*).
Allah yakin, maka saya juga harus yakin bahwa saya bisa menjalani
hidup di FK ini. Kalau kemarin yang saya lakukan hanya 'sekadar'nya, mestinya
saya bisa lebih dari sekadarnya. Masa Allah menempatkan saya sekadarnya. Nggak
kan? Pasti ada alasan yang lebih baik dari 'sekadar'nya. Dan saya mau alasan
tersebut adalah bahwa saya mampu, benar-benar mampu, dengan seluruh kemampuan
yang saya punya, yang sudah saya tempa di ponpes dan di IC dulu.
Dan kemampuan itu, saya yakin, nggak akan keluar dari dalam diri
saya, kalau saya nggak menariknya keluar (atau mendorongnya keluar?) dari dalam
diri saya. Tentu aja, urusan tarik menarik ini atau dorong mendorong ini nggak
bisa sekadar tarik dengan badan yang lemas, dan pikiran negatif. Butuh effort
lebih. Baca buku nya ditingkatin misalnya. Banyak nanya hal-hal yang nggak saya
mengerti, misalnya. Dan nggak diem aja waktu tutorial juga salah satu effort
yang mesti saya lakuin buat menarik semua yang ada dalam diri saya keluar.
Oh iya, yang paling penting dari semua itu, adalah, saya harus
berhenti 'melihat orang lain'. Saya punya kehidupan, saya adalah saya. Saya
harus berhenti bergantung pada orang lain untuk beberapa hal. Say harus
berhenti 'melihat orang lain'. Yang harus saya lakukan adalah, jujur pada diri
sendiri, dan mulai menjadi diri sendiri. :)
Well, kayaknya kerjaan saya banyak nih... harus segera bikin 'List
To Do' dan memperbaiki Life Plan yang saya bikin secara asal-asalan waktu SMA
dulu (*ups, ketahuan :P) ... dan yang utama, saya harus mulai bergerak!
Kata Afifah Afra dalam bukunya 'And The Star Is Me' -- Hiduplah
bagai Air, air akan punya manfaat lebih ketika ia bergerak--
Siip!! Semangat semuanya !!!!
--Lega juga setelah mengeluarkan segala uneg-uneg yang beberapa
hari ini menggumpal di dalam dada, dan seringkali membludak di waktu-waktu yang
tidak seharusnya menjadi emosi yang tak terkendali--
semangat juga mbaakkk!!!!
BalasHapuswalaupun aku nggak sedang mengghadapi masalah hal yg sama dgn Tijay tapi setidaknya aku kehilangan hal yg sama #beh
jazakillah Tyani :)
Bu dokter kereeeennn!!!
wa iyyaki dauss... kita samasama SEMANGAAAT yaaaaa !!! >,,,<
HapusYa Allah Ty, makasih banyak, aku jadi introspeksi diri juga, aku jadi sadar Ty, makasih Ty, sukses selalu buat Tyani dkk, dan semua-semuanya, *uwaaaah, jadi kangen Tyani, pokoknya tetap semangat Ty, insyaAllah niat baik Tyani tercapai, aamin
BalasHapusAmiin Leny ... :)
Hapus