Aku
tahu bahagia ini hanya sesaat. Ketika kita bisa tersenyum atau tertawa
bersama-sama. Ketika kita bisa merasa tenang tanpa beban. Ketika kita
bisa saling memandang satu sama lain, bercengkrama dengan ramai.
Bahagia ini hanya sesaat, sebagaimana waktu-waktu sedih yang juga hanya sesaat kita lewati.
Waktu-waktu sedih dimana air mata dari kelenjar lacrimale kita tak lagi mampu terbendung, hingga akhirnya mendesak turun mengalir di pipi kita, waktu-waktu sedih dimana rasanya dada menjadi sesak, sekalipun sebenarnya kita tak punya penyakit asthma atau jantung, waktu-waktu sedih dimana kepala kita terasa berat hingga rasanya ingin menunduk terus, sayu.
Dan, waktu-waktu sedih itu juga hanya sesaat.
Karena setiap sedih maupun bahagia semuanya hanya sesaat kita lalui, tapi konstan terjadi dalam hidup kita. Bergantian, saling melengkapi, seperti dua mata koin. Sekali waktu menghadap ke arah burung garuda, sekali waktu ke arah dimana terdapat angka yang menunjukkan nominal.
Dan sekalipun hanya sesaat, terkadang waktu-waktu sedih terasa lebih lama ketimbang waktu bahagia. Duh, kawan, karena setiap kali kita bahagia waktu memang terasa lebih cepat ketimbang kejapan mata. Sebaliknya, ketika sedih, seolah jam tak mau berputar hingga siang terasa memanjang dan malam terasa tak ada akhir.
Duh, kawan, tapi yang namanya waktu itu memang sebuah relativitas, atau pruralitas? Ia bergantung pada siapa yang melewatinya. Ia bergantung padaku, padamu, pada kita, bagaimana kita menghabiskannya: dengan sedihkah? dengan bahagiakah? itu bergantung padaku, padamu, pada kita apakah akan menganggapnya sebagai ‘lama’ atau ‘sebentar’.
Bisa jadi, ketika waktu-waktu sedih itu aku anggap hanya sebentar, ternyata kau anggap itu sebagai tiada akhir. Dan bisa jadi waktu-waktu bahagia yang kuanggap hanya seperti kejapan mata itu kau anggap seperti melewati waktu ribuan tahun.
Tapi, yakinlah kawan, ‘lama’ atau ‘sebentar’ nya waktu itu selalu ada sedih dan bahagia. Jadi, jika kau sedih, ingatlah bahwa ada bahagia setelahnya … :)
"Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-insyirah (94): 5-6)
Depok, 6 Januari 2014
Bahagia ini hanya sesaat, sebagaimana waktu-waktu sedih yang juga hanya sesaat kita lewati.
Waktu-waktu sedih dimana air mata dari kelenjar lacrimale kita tak lagi mampu terbendung, hingga akhirnya mendesak turun mengalir di pipi kita, waktu-waktu sedih dimana rasanya dada menjadi sesak, sekalipun sebenarnya kita tak punya penyakit asthma atau jantung, waktu-waktu sedih dimana kepala kita terasa berat hingga rasanya ingin menunduk terus, sayu.
Dan, waktu-waktu sedih itu juga hanya sesaat.
Karena setiap sedih maupun bahagia semuanya hanya sesaat kita lalui, tapi konstan terjadi dalam hidup kita. Bergantian, saling melengkapi, seperti dua mata koin. Sekali waktu menghadap ke arah burung garuda, sekali waktu ke arah dimana terdapat angka yang menunjukkan nominal.
Dan sekalipun hanya sesaat, terkadang waktu-waktu sedih terasa lebih lama ketimbang waktu bahagia. Duh, kawan, karena setiap kali kita bahagia waktu memang terasa lebih cepat ketimbang kejapan mata. Sebaliknya, ketika sedih, seolah jam tak mau berputar hingga siang terasa memanjang dan malam terasa tak ada akhir.
Duh, kawan, tapi yang namanya waktu itu memang sebuah relativitas, atau pruralitas? Ia bergantung pada siapa yang melewatinya. Ia bergantung padaku, padamu, pada kita, bagaimana kita menghabiskannya: dengan sedihkah? dengan bahagiakah? itu bergantung padaku, padamu, pada kita apakah akan menganggapnya sebagai ‘lama’ atau ‘sebentar’.
Bisa jadi, ketika waktu-waktu sedih itu aku anggap hanya sebentar, ternyata kau anggap itu sebagai tiada akhir. Dan bisa jadi waktu-waktu bahagia yang kuanggap hanya seperti kejapan mata itu kau anggap seperti melewati waktu ribuan tahun.
Tapi, yakinlah kawan, ‘lama’ atau ‘sebentar’ nya waktu itu selalu ada sedih dan bahagia. Jadi, jika kau sedih, ingatlah bahwa ada bahagia setelahnya … :)
"Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-insyirah (94): 5-6)
Depok, 6 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar