Tanggal 23-24 Mei lalu, saya memutuskan untuk ikut (-ikutan) dauroh calon santri Pondok Pesanteren Ekonomi Islam Terpadu Daarul Falaah (PEIT dafa). Dafa ini adalah pondok pesantren khusus mahasiswi yang berorientasi pada pembentukan pribadi muslimahpreneur yang melek ekonomi dan mampu berdikari dengan membaca peluang bisnis yang ada dan membuka usaha bisnis. Wew, bukan saya bangetlah pokoknya wkwkwk ...
Pertanyaannya (yang juga menjadi pertanyaan
interviewer kemarin) adalah, kenapa saya ada di sini? Hahahahaha ...
Jadi ceritanya, tahun ini mungkin memang akan
jadi momen terakhir saya di kontrakan kali code ini, setelah tiga tahun yang
namanya pindah hanya jadi wacana buat kami bertiga. Dua orang teman lainnya
memang sedang mencari pondokkan untuk mulai memperkuat kembali
pelajaran-pelajaran agama yang terakhir kali dipelajari sebelum UN SMA. Sebenarnya,
saya bisa dibilang sudah punya kontrakan baru (karena posisinya saya udah bayar
kontrakan yang baru), jadi saya harusnya nggak perlu nyari-nyari tempat tinggal
lagi, apalagi nyari pondok pesantren. Yah, tapi beberapa waktu lalu, mbak murabbi
saya (ceritanya saya sami’naa wa atho’naa wkwkwk) nawarin aja gitu, “Ada yang
mau daftar di dafa?” dan bahkan detik itu saya baru tau ada pondok namanya
dafa. Wkwkwkwk. Yah, begitulah cerita awalnya.
Yaudah gitu. Karena saya nggak bisa ikut Technical
Meeting daurohnya, jadi sampai hari-H dauroh berkas-berkas saya sama sekali
belum saya lengkapin. Hari sabtu tanggal 23 itu, saya baru mulai ngisi
formulir, baru fotokopi ktm, dan lain sebagainya. Asa belum minta surat ijin
ortu sih, eh tapi kayaknya ini menyusul aja deh kalo beneran jadi wkwkwkwk. Dan
dauroh yang harusnya jam 11 harus udah di tempat, saya malah baru berangkat ba’da
zhuhur, kesasar jauh pula karena lupa ancer-ancernya -_________-“
Saya rasanya udah lama banget nggak
ikut-ikutan dauroh yang sampe mabit sama anak non-IC (kalo anak IC mah beda
cerita, nggak perlu persiapan apa-apa asal jalan). Dan alhasil sepagian sebelum
dauroh itu saya uring-uringan, mulai muncul anxiety disorder yang nggak
pentingnya. Asa guling-guling doang di kontrakan sambil ragu-ragu mau berangkat
kapan. Dan yah begitulah, akhirnya saya memutuskan untuk jalan juga.
Sampai di tempat, hampir nggak ada orang yang
saya kenal, selain mbak arifah, mbak khal, mbak asma, dan yasinta. Wew, mulai
deh saya sok ramahnya (sampe dapet award peserta terramah di akhir dauroh, wwkwkwk,
ini anak kontrakan saya ceritain gitu pada langsung ngece nih, karena tau
sebenarnya saya orangnya kagak ada ramah-ramahnya wkwkwk *atau mungkin ini efek
kuliah di fk selama 3 tahun* hahaha).
Pas pertama penjabaran visi, misi dakwah
daarul falaah dan pengenalan sistem KBM nya, hati saya makin ragu-ragu. Sistem KBM
nya di daafaa itu, yah biasalah ada kajian malam dan pagi layaknya ponpes
mahasiswi lainnya. Selama satu tahun pertama ada pengenalan ekonomi islam. Kemudian
tahun keduanya, ada evaluasi tri wulanan untuk evaluasi bisnis yang dijalankan.
Dari evaluasi inilah yang akan menentukan komitmen kita, masih ingin lanjut di
daafaa atau mundur dengan baik-baik?
Di sinilah saya makin ragu. Lha wong,
kepikiran mau jadi dokter apa nggak aja masih ragu-ragu, disuruh mikir buka
bisnis wkwkwk (walaupun nggak ada hubungannya sih haha). Dari sekitar 20an
peserta dauroh, bisa dibilang hampir 90% nya adalah orang-orang yang memang
semangat untuk menjadi enterpreuner dan sudah memiliki visi tentang bisnis apa
yang akan dibangun. Keren kan? Sayangnya, saya nggak termasuk di jajaran
orang-orang keren itu. Bahkan waktu ada pertanyaan tentang rencana bisnis, ada
yang menuliskannya sampai 1 hvs F4 itu penuh, bahkan bolak-balik. Saya sih Cuma
jawab –“maaf, saya belum kepikiran” wkwkwk ... pengennya sih dilanjutin, ‘saya
lagi malas mikir soalnya, pengennya dipikirin’ wkwkwkwk, tapi takut yang baca
ustadznya, ntar malah kualat haghaghag.
Malam tanggal 23 itu, usai haflah yang lebih
banyak penampilan nggak jelasnya itu, ada FGD dengan studi kasus. Alhamdulillahnya,
kasus yang kelompok saya dapet nggak sesulit kelompok lain –walaupun tetep aja
saya nggak dong. Intinya tentang bagaimana membangun bisnis yang memiliki ruh
Islam. Tapi dari sana, saya jadi belajar beberapa istilah dan pola pikirnya
anak-anak ekonomi. Yah walaupun sedikit sih. Dan, dari sekian banyak anak
ekonomi di kelompok saya, entah kenapa saya yang harus presentasi kasus dan
hasil diskusi -____-“, yaudah, saya bahasakan aja dengan bahasa saya ... toh
udah jam sebelas ini, paling juga udah pada nggak dong hahahahaha ...
Tanggal 24, agenda utamanya wawancara. Wawancara
ini menghabiskan porsi waktu yang cukup banyak, karena ada 5 pos. Ada tahsin,
wawancara terkait kewirausahaan, manajemen diri, konsep diri, dan keasramaan. Selama
jalannya wawancara, Alhamdulillah saya nggak harus jadi orang yang paling
nyleneh sendiri karena ada temen satu FK, fiya (yang sering saya panggil
mbakpiya), yang sama-sama ikut (-ikutan) dauroh ini haha. Satu-satunya pos yang
saya niat jawabnya Cuma di pos tahsin doang, yang lainnya mah hadeeeuuh ....
Pertama kewirausahaan, si mbak –yang saya
lupa nggak nanya namanya- tanya, “kamu punya rencana membuka bisnis apa selama
di dafaa nanti?” Saya (sok-sok an) berpikir keras. Dan akhirnya memilih
menjawab jujur, “belum kepikiran mbak, hehe.” Dan pasang senyum paling manis,
biar mbaknya nggak mulai ngamuk dan meremukkan saya wkwkwkwk. “Lah, terus kamu
mau ngapain di sini?” dan pertanyaan itu muncul di tiga wawancara lainnya. Ya saya
jawab aja, ‘saya juga nggak tau mbak mau ngapain.’ Hahahaha
Kedua, wawancara konsep diri sama mbak Avis,
Mbak Avis bilang “Coba dalam waktu 10 menit ini, kamu yakinkan saya kenapa kamu
harus ada di sini dan kenapa kami harus menerima kamu di sini.” Dengan nyleneh
saya jawab, ‘Yaelah mbaaak, saya aja nggak yakin sama diri saya buat masuk
sini, gimana saya mau yakinkan mbak hehe.’ Dan pertanyaan seperti di atas
dikemukakan lagi oleh Mbak Avis, Mbak Indri yang wawwancara tentang manajemen,
dan Mbak Pipit yang wawancara tentang keasramaan.
Waktu terakhir wawancara terkait keasramaan
sama Mbak Pipit, sekjend BEM KM UGM 2012 (wedeeeh harus ditulis banget ini? Wkwkwk),
saya bilang, ‘udahlah, Mbak, saya nggak usah diterima aja nggak apa. Toh saya
nggak serius. Kalau ada yang lebih serius daripada saya, mending orang lain aja
yang dimasukkin.’ Saya sudah pasrah. Hahahaha ... dan ternyata, eh ternyata,
jawaban Fiya pun nggak beda jauh lah ya sama saya wkwkwkwkwk ... duh kita mah
emang lah ....
Tapi, over all, mungkin kemarin, atau sampai
hari ini saya masih belum bisa mengambil pelajaran berharga dari dauroh
kemarin, hanya menjadi bahan tertawaan saya sama orang-orang sekitar yang tahu
saya nggak suka ekonomi dan bisnis. Tapi, suatu saat nanti, entah kapan, semoga
ada pelajaran yang bisa saya pegang dari saya ikut dauroh PEIT daarul falaah
ini. :')
Eh tapi dengan ikut dauroh ini saya jadi kepikiran untuk bikin pesantren untuk penulis atau pesantren untuk para calon tenaga medis dan paramedis (cc : mbakpiya) :'). Semoga suatu saat nanti, salah satunya bisa terwujud ... amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar