Selasa, 26 Mei 2015

Cerita Dauroh Daarul Falaah


Tanggal 23-24 Mei lalu, saya memutuskan untuk ikut (-ikutan) dauroh calon santri Pondok Pesanteren Ekonomi Islam Terpadu Daarul Falaah (PEIT dafa). Dafa ini adalah pondok pesantren khusus mahasiswi yang berorientasi pada pembentukan pribadi muslimahpreneur yang melek ekonomi dan mampu berdikari dengan membaca peluang bisnis yang ada dan membuka usaha bisnis. Wew, bukan saya bangetlah pokoknya wkwkwk ...

Pertanyaannya (yang juga menjadi pertanyaan interviewer kemarin) adalah, kenapa saya ada di sini? Hahahahaha ...

Jadi ceritanya, tahun ini mungkin memang akan jadi momen terakhir saya di kontrakan kali code ini, setelah tiga tahun yang namanya pindah hanya jadi wacana buat kami bertiga. Dua orang teman lainnya memang sedang mencari pondokkan untuk mulai memperkuat kembali pelajaran-pelajaran agama yang terakhir kali dipelajari sebelum UN SMA. Sebenarnya, saya bisa dibilang sudah punya kontrakan baru (karena posisinya saya udah bayar kontrakan yang baru), jadi saya harusnya nggak perlu nyari-nyari tempat tinggal lagi, apalagi nyari pondok pesantren. Yah, tapi beberapa waktu lalu, mbak murabbi saya (ceritanya saya sami’naa wa atho’naa wkwkwk) nawarin aja gitu, “Ada yang mau daftar di dafa?” dan bahkan detik itu saya baru tau ada pondok namanya dafa. Wkwkwkwk. Yah, begitulah cerita awalnya.

Yaudah gitu. Karena saya nggak bisa ikut Technical Meeting daurohnya, jadi sampai hari-H dauroh berkas-berkas saya sama sekali belum saya lengkapin. Hari sabtu tanggal 23 itu, saya baru mulai ngisi formulir, baru fotokopi ktm, dan lain sebagainya. Asa belum minta surat ijin ortu sih, eh tapi kayaknya ini menyusul aja deh kalo beneran jadi wkwkwkwk. Dan dauroh yang harusnya jam 11 harus udah di tempat, saya malah baru berangkat ba’da zhuhur, kesasar jauh pula karena lupa ancer-ancernya -_________-“

Saya rasanya udah lama banget nggak ikut-ikutan dauroh yang sampe mabit sama anak non-IC (kalo anak IC mah beda cerita, nggak perlu persiapan apa-apa asal jalan). Dan alhasil sepagian sebelum dauroh itu saya uring-uringan, mulai muncul anxiety disorder yang nggak pentingnya. Asa guling-guling doang di kontrakan sambil ragu-ragu mau berangkat kapan. Dan yah begitulah, akhirnya saya memutuskan untuk jalan juga.

Sampai di tempat, hampir nggak ada orang yang saya kenal, selain mbak arifah, mbak khal, mbak asma, dan yasinta. Wew, mulai deh saya sok ramahnya (sampe dapet award peserta terramah di akhir dauroh, wwkwkwk, ini anak kontrakan saya ceritain gitu pada langsung ngece nih, karena tau sebenarnya saya orangnya kagak ada ramah-ramahnya wkwkwk *atau mungkin ini efek kuliah di fk selama 3 tahun* hahaha).

Pas pertama penjabaran visi, misi dakwah daarul falaah dan pengenalan sistem KBM nya, hati saya makin ragu-ragu. Sistem KBM nya di daafaa itu, yah biasalah ada kajian malam dan pagi layaknya ponpes mahasiswi lainnya. Selama satu tahun pertama ada pengenalan ekonomi islam. Kemudian tahun keduanya, ada evaluasi tri wulanan untuk evaluasi bisnis yang dijalankan. Dari evaluasi inilah yang akan menentukan komitmen kita, masih ingin lanjut di daafaa atau mundur dengan baik-baik?

Di sinilah saya makin ragu. Lha wong, kepikiran mau jadi dokter apa nggak aja masih ragu-ragu, disuruh mikir buka bisnis wkwkwk (walaupun nggak ada hubungannya sih haha). Dari sekitar 20an peserta dauroh, bisa dibilang hampir 90% nya adalah orang-orang yang memang semangat untuk menjadi enterpreuner dan sudah memiliki visi tentang bisnis apa yang akan dibangun. Keren kan? Sayangnya, saya nggak termasuk di jajaran orang-orang keren itu. Bahkan waktu ada pertanyaan tentang rencana bisnis, ada yang menuliskannya sampai 1 hvs F4 itu penuh, bahkan bolak-balik. Saya sih Cuma jawab –“maaf, saya belum kepikiran” wkwkwk ... pengennya sih dilanjutin, ‘saya lagi malas mikir soalnya, pengennya dipikirin’ wkwkwkwk, tapi takut yang baca ustadznya, ntar malah kualat haghaghag.

Malam tanggal 23 itu, usai haflah yang lebih banyak penampilan nggak jelasnya itu, ada FGD dengan studi kasus. Alhamdulillahnya, kasus yang kelompok saya dapet nggak sesulit kelompok lain –walaupun tetep aja saya nggak dong. Intinya tentang bagaimana membangun bisnis yang memiliki ruh Islam. Tapi dari sana, saya jadi belajar beberapa istilah dan pola pikirnya anak-anak ekonomi. Yah walaupun sedikit sih. Dan, dari sekian banyak anak ekonomi di kelompok saya, entah kenapa saya yang harus presentasi kasus dan hasil diskusi -____-“, yaudah, saya bahasakan aja dengan bahasa saya ... toh udah jam sebelas ini, paling juga udah pada nggak dong hahahahaha ...

Tanggal 24, agenda utamanya wawancara. Wawancara ini menghabiskan porsi waktu yang cukup banyak, karena ada 5 pos. Ada tahsin, wawancara terkait kewirausahaan, manajemen diri, konsep diri, dan keasramaan. Selama jalannya wawancara, Alhamdulillah saya nggak harus jadi orang yang paling nyleneh sendiri karena ada temen satu FK, fiya (yang sering saya panggil mbakpiya), yang sama-sama ikut (-ikutan) dauroh ini haha. Satu-satunya pos yang saya niat jawabnya Cuma di pos tahsin doang, yang lainnya mah hadeeeuuh ....

Pertama kewirausahaan, si mbak –yang saya lupa nggak nanya namanya- tanya, “kamu punya rencana membuka bisnis apa selama di dafaa nanti?” Saya (sok-sok an) berpikir keras. Dan akhirnya memilih menjawab jujur, “belum kepikiran mbak, hehe.” Dan pasang senyum paling manis, biar mbaknya nggak mulai ngamuk dan meremukkan saya wkwkwkwk. “Lah, terus kamu mau ngapain di sini?” dan pertanyaan itu muncul di tiga wawancara lainnya. Ya saya jawab aja, ‘saya juga nggak tau mbak mau ngapain.’ Hahahaha

Kedua, wawancara konsep diri sama mbak Avis, Mbak Avis bilang “Coba dalam waktu 10 menit ini, kamu yakinkan saya kenapa kamu harus ada di sini dan kenapa kami harus menerima kamu di sini.” Dengan nyleneh saya jawab, ‘Yaelah mbaaak, saya aja nggak yakin sama diri saya buat masuk sini, gimana saya mau yakinkan mbak hehe.’ Dan pertanyaan seperti di atas dikemukakan lagi oleh Mbak Avis, Mbak Indri yang wawwancara tentang manajemen, dan Mbak Pipit yang wawancara tentang keasramaan.

Waktu terakhir wawancara terkait keasramaan sama Mbak Pipit, sekjend BEM KM UGM 2012 (wedeeeh harus ditulis banget ini? Wkwkwk), saya bilang, ‘udahlah, Mbak, saya nggak usah diterima aja nggak apa. Toh saya nggak serius. Kalau ada yang lebih serius daripada saya, mending orang lain aja yang dimasukkin.’ Saya sudah pasrah. Hahahaha ... dan ternyata, eh ternyata, jawaban Fiya pun nggak beda jauh lah ya sama saya wkwkwkwkwk ... duh kita mah emang lah ....

Tapi, over all, mungkin kemarin, atau sampai hari ini saya masih belum bisa mengambil pelajaran berharga dari dauroh kemarin, hanya menjadi bahan tertawaan saya sama orang-orang sekitar yang tahu saya nggak suka ekonomi dan bisnis. Tapi, suatu saat nanti, entah kapan, semoga ada pelajaran yang bisa saya pegang dari saya ikut dauroh PEIT daarul falaah ini. :')

Eh tapi dengan ikut dauroh ini saya jadi kepikiran untuk bikin pesantren untuk penulis atau pesantren untuk para calon tenaga medis dan paramedis (cc : mbakpiya) :'). Semoga suatu saat nanti, salah satunya bisa terwujud ... amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar