Jumat, 25 September 2015

Hari ini, Instalasi Gawat Darurat, Anafilaksis

Hari ini, seorang teman berinisial R datang ke ruang tutorial dengan masker. Hidungnya tidak berhenti bersin. Matanya berair. Semakin lama diskusi di ruang tutorial itu berjalan, semakin parah pula pileknya, matanypun semakin berair. Usai diskusi berjalan, si R tanya, "Eh Ty, mataku bengkak ya?" Dan begitulah awalnya.

Sekitar jam sepuluhan, separuh anak kelompok tutorial saya tak sengaja bertemu saya dan A yang terdapar di pelataran Grha Wiyata depan lift lantai 2 karena nggak dapet ruangan. Tiba-tiba, seseorang dari separuh itu bilang (tapi saya lupa siapa gitu yang bilang, haha.) "Eh Ty, temenin R ke IGD yuk! Makin parah nih kayaknya alerginya." Dan saya dan A langsung mengiyakan, dan jalanlah kami ke IGD lewat jalur 'adem' alias jembatan yang menghubungkan FK dengan Sardjito di lantai 3, haha. Well, sepanjang perjalanan, jujur aja saya deg-degan karena R perlahan napasnya mulai setengah-setengah. Mulai sesak napas. Matanya terus berair nggak berhenti. Setiap saya tanyain "Mau duduk dulu po?" Dia cuma nunjuk ke depan, maksudnya 'jalan aja terus', tapi bahkan ngomong aja beliau udah kesulitan karena napasnya yang sudah mulai tersengal. Di lift turun ke bawah kami terpisah karena liftnya ga cukup. Saya R, An sama Al turun duluan ke IGD. Kita masuk ke IGD lewat jalur 'pegawai' haha. Saya nuntun R sampai ke meja dokter triase sambil degdegan. Ya gimana ga degdegan, orangnya aja udah makin ga bisa napas, jalan aja udah nyender di sepanjang dinding rumah sakit. Al sama An jalan duluan ke depan, ke meja administrasi, sementara saya sambil nyeret R, menghampiri dokter triase, "Dok, maaf ini temen saya mau periksa." Terus dokter dan perawat IGD langsung sigap menolong R yang udah susah payah berdiri, diambilin bed troli yang terdekat, dibopong untuk naik ke atasnya.

Dokternya tanya, "Ini kenapa mbak?"

Saya jawab sesuai yang saya tau aja, "Alergi dok. Alergi obat."

"Habis makan obat apa emang?"

"Neu*****n, dok"

Terus habis kejadian itu Al dan An masuk karena bingung sama administrasinya, dan teman-teman lainnya yang terpisah di lift tadi, dan saya keluar ngegantiin Al dan An ngurusin administrasi, meski saya juga ga tau apa yang harus diurus di sana ._.

Dan ternyata selama ngurus administrasi itu, R masuk ruang resusitasi, dan saat itulah dokter triase memanggil tim dokter dan bilang kalau R pasien level 1.

Dan ternyata (lagi), entah kenapa hari itu IGD Sardjito sangat amat full sekali banget. Waktu kami-kami ini nunggu di depan IGD, satu ambulan bersambut ambulan lainnya yang bawa pasien, belum ditambah mobil pribadi atau taksi yang juga bawa pasien untuk ke IGD. Kami sampai heran, waktu jamnya kami field visit ke IGD pasiennya kurnag dari sepuluh dan bisa bangetlah dihitung dengan jari. Hari ini, hari dimana salah seorang teman kami harus masuk IGD, dokter-dokter bahkan sampai bingung siapa yang harus dikeluarkan dari ruang resusitasi karena ada pasien lain yang masuk dan membutuhkan tindakan cepat.

Kalau ceritanya dari teman T yang sempat menjaga R di dalam ruang resusitasi beberapa saat, bilang kalo tadi aja tensimeter, pulseoxymeter nya gantian dari pasien ke pasien lainnya dengan cepat. Hari itu, kami bersekian yang berada di penghujung blok emergency ini, cukup takjub dengan field visit kedua kami ke IGD -meski tanpa dosen pembimbing. Tapi, kami menyaksikan langsung ke-hectic-an IGD seperti di film-film. Dan bahkan, teman saya si R itu ketika sudah stabil aja nggak dapet ruang dan dimonitoring di koridor IGD bersama dengan tiga pasien lainnya ...

Yah tapi begitulah ... hari ini. Hari yang mendadak juga menjadi hectic buat kami :)

2 komentar:

  1. Obat apa vitamin B Komplek ty? hehe #ngasal

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu obatnya aku sensor karena merk don, tapi kandungannya itu Ibuprofen ..

      Hapus