Kamis, 20 April 2017

Randomly talk (2)

Hidup dalam kecemasan itu sangat melelahkan. 

Ketika kamu, tanpa diminta atau meminta, cemas bagaimana caranya berbicara dengan orang baru. Bagaimana jika nanti kamu salah berbicara dengan orang itu. Bagaimana jika nanti orang yang kamu ajak bicara itu tidak nyaman denganmu karena mungkin kamu terlalu banyak bicara, atau terlalu sedikit bicara, atau kehabisan ide, atau mungkin penampilanmu membuatnya tidak nyaman, atau lainnya, atau lainnya.

Ketika kamu, tanpa diminta ataupun meminta, cemas bahkan saat Kan membeli makan. Nanti bagaimana cara memesannya. Bagaimana kalau kamu salah cara memesan. Bagaimana jika ternyata meski kamu panggil waiters, tapi tidak ada yang menyahut, lalu kamu diam berjam2 memandangi menu, terlalu takut untuk memanggil kembali waiters. Atau bagaimana jika sebenarnya para waiters ini menganggap dirimu tidak sopan. Bagaimana jika ternyata menu yang sangat diinginkan habis. Bagaimana jika kamu tidak jadi memesan karena tidak ada menu yang kamu inginkan. Bagaimana jika kamu ternyata tidak menghabiskan makan, perutmu sudah kenyang, sementara kamu terpikir, jangan-jangan di antara pegawai rumah makan ini pun ada yang kekurangan makan, sementara kamu membuang-buang makanan. Bagaimana jika kamu ingin meminta bungkus dan lalu harus kembali berhadapan dengan orang, yang sudah barangtentu sangat mencemaskanmu. 

Pada akhirnya, kamu melewati semua rumah makan. Dan memilih memak mie instan, yang sudah berhari-hari pula kamu makan.

Ketika kamu, tanpa diminta ataupun meminta, cemas untuk kembali hadir di kampus yang sudah lama kau tinggalkan. Bagaimana jika nanti kamu bertemu adek kelasmu, lalu dia mulai bertanya -yang sebenarnya tidak berniat menyinggung, tapi kamu tidak mampu menjawab dan mungkin seidikit banyak pertanyaan itu menyinggung. Bagaimana jika kamu bertemu dosen lama mu di kampus sembari kamu jalan. Kamu harus menyapakah? Atau pura-pura tidak kenal? Bagaimana ketika kamu mencoba menyapa, tapi ternyata beliau tidak ngeh, dan kemudian membuatmu malu. Atau bagaimana jika tiba-tiba justru beliau yang bertanya. Tentang ini maupun tentang itu, yang membuatmu semakin tidak nyaman. Bagaimana jika kamu bertemu dengan dosen lain yang tidak ingin kamu temui, kemudian kamu kembali cemas harus menyapa atau tidak. Lantas memilih tidak menyapa, dan kemudian bagaimana jika keputusan itu justru berujung masalah? Bagaimana jika kamu bertemu kakak angkatanmu yang mulai menggoda ini itu dan kemudian membuatmu iri, sementara kamu sangat takut bila mulai iri, kamu akan mulai membanding- bandingkan dirimu dengan yang lain.

Lalu kamu mulai merasa tidak berguna, dan tidak ada apa-apanya. Kamu mulai depresi.

Ketika kamu, tanpa diminta ataupun meminta, cemas ketika harus hadir rapat -meski itu kamu yang menjadi penanggung jawabnya. Kamu cemas dengan bisa atau tidaknya kamu memimpin forum dengan serius tapi santai. Kamu cemas dengan bisa atau tidaknya mencapai tujuan rapat hari itu. kamu cemas dengan bagaimana reaksi orang terhadap sikapmu hari itu. Kamu cemas seandainya hal-hal yang dirapatkan tidak berjalan sesuai dengan rencanamu. Kamu cemas jika kamu ditanya sementara, kamu tidak dapat menjawab. Kamu cemas kamu tidak dapat mempertanggungjawabkan hal yang seharusnya pekan lalu kamu kerjakan. Kamu cemas jika yang lebih tinggi jabatannya memandangmu konyol dan tidak capable. Kamu pun cemas jika subordinat mu memandangmu tidak layak memimpin.

Padahal bahkan, kamu tidak punya harapan untuk dirimu sendiri. Kamu sudah lama mengurangi harapan, agar tidak lagi menambah kecemasan-kecemasan lain.

Ketika kamu, tanpa diminta ataupun meminta, cemas harus presentasi atau berbicara mengisi forum. Kamu cemas bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan, Kamu cemas jika penonton tidak berkenan atau bosan mendengarmu. Kamu cemas jika penyimak tidak paham apa yang kamu sampaikan. Kamu cemas terdengar menggurui. Kamu cemas kamu tiba-tiba blank di tengah kamu menyampaikan. Kamu cemas jika tidak mampu menjawab audiens. Kamu cemas jika kamu tergagap di tengah. Kamu cemas dan cemas dan cemas.

Semua kecemasan itu sering pula bercampur menjadi satu, hingga tidak lagi tahu sebab dari kecemasan itu sendiri. Cemasnya mengaduk-aduk perut, membuat mual, hingga muntah.

berbutir-butir obat mual ataupun obat maagh tidak mampu menahan mualnya. 

Kamu menghilang dari manapun. Menyisakan ruang yang hanya terisi kamu dan pikiranmu, menatanya. Satu hari. Kamu masih cemas. Dua hari. Cemasnya masih belum hilang, rencana belum tersusun. Tiga hari. Cemasnya belum hilang, hingga kamu tak sadar bahwa sudah berhari-hari kamu di sana. Berusaha menekan cemas itu agar tak mengganggu orang.

Tapi cemas itu tidak mudah pergi. Ia di sana ketika kamu keluar dari persembunyianmu. Hanya saja dalem fase dorman. Hingga suatu waktu nanti, ia bisa kembali aktif bagai bom waktu. Dan membuatmu cemas lagi.

Kamu cemas. Dan terus cemas. Ketika kamu bercerita ke orang tentang kecemasanmu, reaksi mereka bahkan sama dengan logikamu, sama dengan keinginanmu. "Nggak usah cemas," atau, "nggak usah mikir kemana-mana," atau bahkan, "tidak usah berlebihan,".

Lalu kamu berpikir, bagaimana caranya untuk tidak cemas? Seandainya mudah bagimu untuk tidak cemas. Seandainya mudah bagimu untuk menyuruh kepalamu diam dan tidak lagi mencemaskan hal yang tidak perlu. Seandainya semudah itu, sudah sejak dulu mungkin kamu lakukan, hingga kamu tidak perlu lelah setiap harinya karena cemas.

Seandainya ...

Dan seandainya-seandainya itu membuat cemas bahwa kamu akan cemas di kemudian hari untuk yang ke sekian ratus ribu juta kalinya, untuk hal-hal yang orang lain tidak cemas.

 
 


1 komentar:

  1. Cemas itu [akan selalu] ada..
    Tinggal bagaimana menyikapi dan mengendalikan kecemasan tersebut...

    BalasHapus