Rabu, 23 Januari 2019

Semangat :)


Semangat buat besok, pipeeh :))
biar kita foto kayak gini, tapi yang kamu yang pake selempang ..

mari akhiri semua yang membebani. :)
biar kita bahagia ...

mari membahagiakan diri kita, supaya kita bisa bikin orang lain bahagia :)



btw, aku nungguin kamu sidang loh peh buat uplot foto ini wkwk .. (padahal mah pipehnya ga akan baca blog ini juga wkwk) ..

Kamis, 17 Januari 2019

Denial dan Acceptance #2

Sekarang lagi ngetrend 10 year challenge itu ya di sosial media.

Saya jadi ikut ikutan mengingat, 10 tahun lalu saya lagi ngapain, lalu mengingat perjalanan hidup 10 tahun belakang. Kalau 10 tahun yg laku itu tahun 2009, yg berarti itu saya lagi kelas X, lagi unyu-unyu nya jadi anak MA (iya bukan SMA), berarti saya sudah meninggalkan rumah sekitar 13 tahun. WOW. Itu lebih dari separo umur saya.

Kalau membandingkan diri saya sekarnag dan lalu, rasanya, semakin bertambah usia semakin banyak yang dipikirin, sampai hal-hal nggak remeh temeh aja dipikirin. Padahal dulu pas di pondok, pas di IC juga, rasanya beban untuk tetep rengkin atas (pas di pondok), dan beban untuk tetep naik kelas (pas di IC) udah sebesar itu, udh sampe maagh seribg kambuh, udah sampe nangis-nangis bombay. Tapi kalau sekarang, pas flashback ke belakang, wah dulu enak ya, cuma mikir lulus aja. Wkwk.

Kalau sekarang mikirnya udah lebih luas lagi. Tentang diri sendiri yang nggak cuma tentang lulus. Iya lulus juga sih. Mikir habis ini mau kerja apa kuliah lagi, mau nikah kapan, terus tentang dakwah yang seharusnya dilakukan, tentang pilihan-pilihan yang semakin bertaburan.

Lalu, mungkin secara emosional dan kognitif saya berkembang ketika menghadapi ornag yang lebih macam-macam lagi selama di kampus, dari kelompok yang beragam.

Sekarang saya juga semakin sulit menerima diri sendiri. Entah karena apa. Waktu MTs dan MA, ada satu titik puncak setelah denial yang panjang, saya menerima diri saya sendiri. Saya menerima bahkan ketika saya tidak mampu mengerjakan matematika atau pun fisika dengan baik sebagaimana yang saya lakukan saat MTs. 

Tapi saat kuliah, sejak awal hingga sekarang, saya belum menemukan titik penerimaan pada diri saya. Menerima diri saya sebagai mahasiswa FK, menerima dengan legowo bahwa waktu yang saya miliki tidak sebanyak mahasiswa sosial, menerima bahwa saya harus belajar setiap hari, menerima bahwa waktu tidur saya berkurang, menerima bahwa hidup saya bukan cuma punya diri saya, tapi punya pasien, punya orang lain.

Saya belum bisa menerima itu....

Sehingga, setiap harinya saya berantem sama diri saya. Meyakinkan bahwa diri saya harus belajar, tapi pengen tidur. Saya harus ngerjain tugas-tugas, tapi saya pengen main. Lalu saya pengen tilawah tapi tugas masih numpuk, terus saya jadi sering bingung dengan prioritas. Lalu karena bingung, jadi lebih mudah meninggalkan. Tugas ditinggalkan, belajar ditinggalkan, ibadah ditinggalkan. Semua ditinggalkan. Terus saya milih tidur karena itu paling mudah untuk dilakukan.

Lalu paginya saya cemas. Tapi sorenya terulang lagi hal yg sebelumnya. Dan teruuus seperti itu hingga hari ini.

Saya jadi bingung, saya ini ngapain sih? Saya di fk nih ngapain sih? Saya di rumah sakit tuh ngapain sih? Saya koas nih ngapain sih?

Saya terus-terusan denial. Saya pengen menerima diri saya sendiri. Saya sudah sadar nih, cuma tinggal action nya aja yqng susah.

Emang bener ya kata orang, ngomong tuh lbh gampang daripada praktiknya. Teori tuh lebih mudah diucapkan daripada dipraktikan.

Ya Allah, saya pengen balik .... (Ini random sih, tapi saya beneran pengen balik .. ke Allah).

Ditulis di IGD RSA

Jangan membenci, tyani.
diterima aja.

diterima semua kondisinya, diterima aja.

Selasa, 15 Januari 2019

Denial dan Acceptance

kemarin, saat liqo, murabbi saya membahas tentang prokastinasi, salah satu bagian dari sebuah buku, cuma saya lupa bukunya apa.inti bahasannya salah satunya adalah, sebelum menghilangkan dan membenci sikap prokastinasi alias menunda-nunda ini, ya kita terima dulu kalo kita, sebagai manusia, sewajarnya emang punya sifat, bibit, benih prokastinasi. diterima dulu, baru, dibenerin. Kalau kita terus-terusan membenci sifat prokastinasi yang ada dalam diri kita, sifat itu justru ga akan selesai.

kemudian, saya jadi relate. bahwa sampai detik ini saya masih denial kalau saya anak koas, mahasiswa kedokteran, yang waktunya banyak tersita di rumah sakit dan tugas-tugas. saya kelabakan dengan fakta bahwa waktu saya nggak sebanyak dulu lagi. bayangin dong, udah dari jalan setengah koas, yang berarti udah jalan 11 bulan koas, saya masih denial. Apa nggak capek hidup saya?

capek. banget. setiap harinya capek mental menghadapi orang-orang di rumah sakit baik itu konsulen, residen, perawat, pasien, ataupun koas lainnya, capek tugas-tugas, capek jaga, masih capek melawan diri sendiri. ya ampun, berat banget si hidup kamu ty wkwk semua-mua dipikirin.

Apalagi, saya sering berpikiran kalau, nantinya saya nggak akan jadi dokter karena saya punya keinginan yang lain. jadilah saya menyeret langkah dalam menjalani kehidupan koas. saya benar-benar kosong.ilmunya kosong, enggan belajar. spiritualnya juga kosong, bingung beradaptasinya dengan waktu yang emang sempit. saya jadi bingung. lama-lama saya jadi membenci diri saya. saya benci diri saya yang ogah-ogahan belajar, saya benci diri saya yang ogah-ogahan ibadah-terutama sejak koas.

sejak koas, hidup saya berubah 180 derajat. saya jadi banyak bingungnya. kehilangan tujuan juga, lalu sembari menggeh-menggeh untuk catch up dengan yang lain, saya menggeh-menggeh juga untuk catch up dengan diri saya yang dulu, yang paling tidak -amalan yauminya terjalani. thus, saya jadi benci diri saya yang memilih untuk koas ketimbang lanjut S2 IKM, saya jadi membenci diri saya sendiri yang sudah emmilih koas tapi enggan menjalani, atau menjalaninya dengan bodoh plus ogah-ogahan, plus minderan.

Lalu, sejak koas juga saya merasa sering nggak punya waktu untuk diri sendiri, dan itu yang sulit, sementara saya suka banget menghabiskan waktu sendirian, -terutama untuk hal yang nggak berguna, dan untuk menenangkan diri juga pikiran. jadilah saya terus-terusan denial kalo saya udah koas.

saya tanpa sadar sering berpikir bahwa apa yang saya lakukan ini salah. tanpa sadar saya menyesali keinginan saya untuk koas, melupakan tujuan awal saya koas : menaklukan diri sendiri. dan karenanya saya sering berpikir untuk nggak jadi dokter setelah ini, yang berimbas pada semakin ogah-ogahan ngejalanin koas. padahal koas cuma dua tahun kalo dibandingin sama masa S1 yang 3,5-4 tahun, ya ini separonyalah. dan saya juga udah menghabiskan separonya, tinggal separo dari separo. tapi, saya masih gini-gini aja, malah semakin ogah-ogahan. lalu saya jadi semakin membenci diri saya dari hari ke hari.

dan wow, it's tiring. yaiyalah saya capek, tiap hari berantem sama diri sendiri, tiap hari mencemaskan hal-hal yang nggak ada kaitannya dengan hari ini. berpikirnya kejauhan. kejauhan ke depan juga ke belakang. bikin saya terjebak di antara masa depan dan masa lalu, tapi tidak hari ini. padahal, hari ini saya hidup. saya hidup di hari ini. Bukan di masa lalu, juga bukan di masa depan.bahkan, saya nggak tau euy, di masa depan, ketika saya memutuskan untuk melanjutkan jadi dokter atau tidak -apakah saya masih hidup atau tidak.

saya ingin berdamai dengan diri saya sendiri. saya ingin sadar bahwa saya sedang koas, dan menerima seutuhnya hidup saya yang berjalan lebih 'lambat' daripada teman-teman seusia saya. saya ingin bisa menerima diri saya tanpa membencinya. menerima diri saya pencemas, mudah panik, dan segala keburukan lainnya.

saya ingin menerima diri saya.

Rabu, 09 Januari 2019

Sudah Januari (lagi)

saya mau cerita, ngalor ngidul ... jadi,

Januari sudah berlalu 9 hari ... wktu saya di stase IPD, saya ingat pernah bilang kalau sampai akhir tahun (2018) saya masih ogah-ogahan belajar buat koas, kayaknya saya nggak jadi dokter aja, daripada membahayakan nyawa banyak orang.

And here I am. Sudah Januari, masih belum mau belajar. Masih merasa koas nggelinding aja nggak papa. Masih ogah-ogahan untuk berangkat koas. Dan bahkan sudah kehilangan tujuan kenapa saya mau koas.

kemarin, saat kajian rutin di kosan (iya, di kosan saya kajian rutin per bulan), pengampu materi sempat menyinggung bahwa dalam Al-Quran Allah sudah -entah berapa kali mengulang agar manusia menggunakan akalnya. untuk berpikir, untuk menjadi lebih baik, untuk beribadah pun untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Rasanya saya tertohok. Saya, sejujurnya, belum pernah menggunakan akal saya dengan maksimal. Saya udah nggak tau lagi batasannya apakah saya sekadar malas, apakah saya cemas sehingga saya menunda segalanya, apakah saya panik sehingga merasa tidak mampu mencerna semua materi yang harusnya saya pelajari atau apa?

saya sering berpikir untuk kembali ke psikolog lagi. entah, mungkin butuh katarsis. dan juga penanganan. terutama untuk kecemasan yang setiap hari datang tanpa henti. Dan mengalahkan diri saya. Saya jadi takut berbicara, saya jadi merasa rendah, merasa tidak berguna.

belakangan saya juga lebih sering meninggakan amalan yaumiyyah. membuat amalan yang emang sudah bolong-bolong menjadi semakin lebar bolongnya. Saya merasakan benar-benar, betapa mudahnya meninggalkan ibadah, dan betapa sulitnya membangun kebiasaan itu kembali.

Sesungguhnya saya rindu. rindu sama Allah, rindu ke kajian, dan berkumpul dengan orang shaleh. benar-benar ya ketika kewajiban tersisa perkara akademik, profesi lagi, rasanya futurnya bisa sebegitunya. sulit mencari waktu shalat, shuit mencari waktu ke kajian, nggak ada temen seperjuangan yang sekufu, sulit nyari waktu liqo. apalagi waktu awal-awal liqo saya semept nggak liqo, karena waktunya nggak pernah match. dimana saat itu saya jadi bingung, saya harus memprioritaskan saya sendiri atau teman-teman seliqo? sejak saya lama nggak liqo itu (sekarang udah mulai teratur lagi sih), saya jadi berhenti membaca berita dan update informasi, khawatir tidak mampu memfilter informasi dengan logika iman yang semakin terkikis. tapi ternyata, hal yang seperti ini berimbas pada keapatisan yang semakin menjadi-jadi.

Ah, saya merasa sedang menyalahkan situasi dan orang lain. saya pengen sih nyalahin diri sendiri-kayak biasanya, kayak, ah tyani, kamu nih imannya kurang kuat, ibadahnya kurang kenceng, dan segala kurang-kurang lainnya. tapi entah mengapa, saya capek. saya capek luar biasa, physically, mentally, emotionally. saya rasanya kangen sama masa dimana saya masih berusaha mengejar ketertinggalan, berusaha menjadi baik setiap harinya. sementara, hari ini, bahkan saya sudah malas memikirkan jalannya hari esok, saya sudah malas berpikir. padahal saya tahu, nggak akan ada yang memikirkannya untuk saya (menurut ngana?).

belakangan saya pengen pulang. bukan apa-apa, cuma pengen dukungan moral aja. hatinya lagi sempit, imannya lagi jatuh, pikirannya lagi dangkal. pengennya ngeliat bapak ibu mbak mas yangjuga sama-sama berjuang setiap harinya. kalo di kos, setiap pulang dari rumah sakit dan kembali ke kosan, terus mentok dinding, ujung-ujungnya main hp, for fun. tanpa ada unsur pencerdasan sama sekali. kadang-kadang saya malah cenderung menghindari hal-hal edukasi di hp.

saya jadi inget aktu ketemu mbak syarof tempo hari. waktu itu saya bilang, 'mbak, saya nih udah terlalu jauh nyasarna. saya rasanya pengen pulang. tapi saya nggak tau jalannya, atau mungkin saya udah lupa.' (bayangin dong, orang udah mau nikah, masih saya repotin. orang yang udah nikah aja masih saya repotin macam mbak mus dan mbak wul wkwkw, apalagi yang baru mau nikah). Mbak syarof bilang,  'sebenernya kamu udah tau ty, jalan pulangnya. kamu cuma butuh diingetin aja'.

mungkin memang iya. berhubung, selama koas beberapa bulan ke belakang, saya jarang sekali berkumpul dengan orang shaleh macam mbak syarof, dan mbak-mbak lainnya, atau teman-teman liqo, sehingga, nggak ada yang ngingetin saya. ya udah, akhirnya saya terus aja jalan, wandering ke sana kemana. kemana coba?

sesungguhnya saya capek. saya ingn ketenangan. ketenangan yang saya dapat dari kepecayaan saya ke Pencipta saya, Yang Menggenggam takdir saya. Saya ingin ketenangan yang saya dapatkan dari kecintaan saya sama Tuhan saya, yang saya sembah setiap hari, yang saya panggil kalo sayalagi bingung, kaget, sedih, gembira. saya ingin ketenangan dari Kewibawaan Allah yang setiap hari melingkupi dunia yang kecil ini.

saya pengen balik. meski dengan menyeret langkah. tolong tarik saya, dong, siapapun, supaya saya nggak merasa sendirian, dan akhirnya tergeletak begitu aja. 

saya ingin ketenangan ketika saya harus belajar, membaca, di rumah sakit, maupun di kosan. saya tau sih, kalau wktu konsentrasi saya belakangan sangat bekurang, mungkin ada faktor dari kecemasan-kecemasan saya berperan di dalamnya. saya juga jadi mudah lupa, apalagi kalo ditanya konsulen. efek saya cemas, panik, serta minder. udah jadi satu paket lengkap. kalo udah kayak gini, mau udah belajar semalemnya juga tetep aja nggak bisa jawab.

saya capek ngerasa begini. saya capek ngomong saya capek. setiap hari saya ngomong saya capek. setiap telpon rumah, ngechat rumah, ngecah mbak, mas, juga isinya sama, cuma bilang saya capek. wkwk. mungkin yang baca dengerin juga sama capeknya sama saya ngeliat/denger saya ngomong capek.

saya pengen belajar (lagi). saya pengen tidak tebruru-buu dan kemrungsung. saya ingin tenang. dari tenang, saya ingin bisa berani. dari berani, saya ingin bermanfaat untuk orang lain. supaya capek saya Lillah. supaya, perjuangan saya selama ini nggak menguap begitu aja.

Ya Allah, saya mau ketenangan. Juga keberanian.

Ya Allah, maaf ya, saya kerjannya ngeluh mulu, nggak habis sholat,, sehari-hari, di blog, dimanaaaapun. maaf ya Allah ... saya juga maunya nggak ngeluh. tapi susah ternyata. jadi baik itu susah.

pengen jadi invisible men. haha (random sekali sih ini).

yasudah, saya banyak tugas, tapi malah milih ngeblog. ya karena tadi capek itu sih wkwk ... yasudahlah. saya capek ngomong capek. sebelum keluar lagi katanya, kayaknya harus mengakhiri tulisan ini di sini.

Ya Allah, saya ingin ketenangan. juga keberanian.


Jumat, 28 Desember 2018

Ya Allah, aku ingin kasih sayang-Mu. dan kekuatan, keberanian juga ya Allah. ketenangan dan ketentraman juga ..

Ya Allah maaf ya, Tyani mintanya banyak .. :( tapi, pada siapa lagi aku meminta, selain kepada-MU?