Waktu ngobrol-ngobrol dengan seorang teman di sela-sela belajar anatomi tadi, kami sempat membahas tentang kehidupan setelah kematian. Beliau bilang begini, "Sebenernya, Ty, aku percaya adanya kehidupan setelah kematian itu karena aku mikir kayak gini, di dunia ketika aku hidup ini, ada banyak orang baik yang diadili secara tidak adil oleh hukum-hukum yang dibuat manusia, misalnya aja kayak nenek yang diadili karena mencuri kayu, sementara koruptor yang menyengsarakan orang lebih dari apa yang dilakukan si nenek pelaksanaan hukumnya tidak seberapa. Jadi, aku percaya akan ada hari dimana orang-orang yang baik yang diadili secara tidak adil di dunia ini dan mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya di suatu masa, dan masa itu aku yakin nggak di dunia..." dan seterusnya dan seterusnya, kurang lebih seperti itu yang diucapkan Beliau.
Kehidupan setelah kematian, saya jadi inget pembahasan kajian manhaj hari minggu lalu yang diisi oleh seorang ustadz dari rumah fiqh, beliau bilang kira-kira begini, "Kalau mengacu pada perkataan Rasulullah, kehidupan di dunia ini bisa diibaratkan seperti menyebrang jalan. Dan setelah kita menyebrang jalan itu, akan ada jalan yang jauh lebih panjang dan lebih berat yang akan kita lalui, itulah kehidupan setelah kematian. Nah, kehidupan di dunia yang seperti menyebarang jalan itu singkat, sangat singkat. Dan justru yang membutuhkan lebih banyak bekal adalah perjalanan setelah menyebrang jalan tadi, perjalanan yang jauh lebih berat dan jauh lebih panjang. Jadi, sebenarnya, ada dua hal yang perlu kita lakukan di dunia ini; yang pertama adalah menghimpun bekal sebanyak-banyaknya untuk perjalanan yang lebih jauh, kehidupan setelah kematian, dan yang kedua adalah membuang beban sebanyak-banyaknya, alias menggugurkan dosa-dosa kita dengan bertaubat, agar di perjalanan nanti tidak banyak beban yang kita bawa, hingga perjalanan kita jadi lebih ringan."
Sulit memang membayangkan adanya kehidupan setelah kematian, ya karena kita masih hidup dan belum mati. Tapi, kata Allah itu ada. Kata Allah, kata Rasulullah, akan ada kehidupan setelah kematian, maka yang perlu orang beriman lakukan hanyalah mempercayainya. Mempercayai apa yang telah digariskan Tuhannya, karena ada rahasia-rahasia yang hanya Tuhan yang tahu, ada rahasia-rahasia yang makhluqnya tak perlu tahu, agar manusia-manusia seperti saya terus berjuang, terus berusaha menghimpun bekal berupa ilmu, berupa amal, berupa pahala, dan berusaha untuk merayu Sang Maha Kuasa atas segalanya untuk mendapatkan pengampunan dari-Nya untuk semua dosa yang telah dilakukan.
Kehidupan setelah kematian, sulit memang membayangkannya, akan seperti apa, kita akan menjadi seperti apa dan lain sebagainya, tapi Allah bilang, Rasulullah bilang hal itu ada, dan pasti terjadi, walaupun hanya Allah yang tahu kapan hal itu akan terjadi. Jadi, untuk hal-hal yang tidak diketahui sebagai suatu ciptaan Allah, yang perlu kita lakukan hanyalah percaya pada Sang Pencipta. Percaya bahwa janjinya adalah sebuah kepastian, bukan harapan palsu.
Masih ada perjalanan yang panjang dan berat setelah mati?? hehehe.... itu mau kemana sih ..?? setahuku kita harus diadili oleh Isa Almasih, neraka atau sorga. ngak ada jalan2 lagi. wah ini bisa ....... yah terjemahkanlah sendiri. umat bisa bingung tuh.
BalasHapus