Sebenarnya saya pengen nulis, tanggungan nulis juga udah numpuk, mulai dari ngisi tumblr bersama, antologi karya proyek FLP, sampe kumcer kolaborasi, plus proposal skripsi. Tapi, begitu buka laptop, buka windows media player, buka word, terus pasti malah nulis yang baru bukan yang kemaren-kemaren dilanjutin. Kalo buka file-file yang kemaren, terus rasnaya saya stagnan. Bengong di depan laptop sambil nyanyi ngikutin lagu yang diputer, walopun saya yakin saya nyanyinya nggak bernada.
Saya jadi inget, pernah beberapa waktu lalu, saya bahkan nggak bisa nulis sama sekali. Apapun yang saya tulis terasa salah untuk ditulis, terasa salah untuk dibaca, bahkan untuk diri saya sendiri. Sampai suatu ketika saya diskusi sama seorang mbak-mbak di FLP, mbak ummi namanya. Beliau bilang, tanggung jawab menulis itu sama kayak tanggung jawab kita berbicara. Apa yang kita tulis, akan dipertanggungjawabkan sama kayak apa yang kita bicarakan. Tapi,jangan sampe hal itu membuat kita jadi menyimpan sendiri ilmu yang kita punya. Sampaikan sejauh apa yang kita ketahui saja.
Dan terakhir, saya inget pernah baca di suatu tempat, tapi saya lupa dimana, pokoknya intinya si sesuatu itu bilang, kalau menulis itu seperti mengalirkan air dari keran. Airnya nggak akan ngalir kan kalau kerannya nggak dibuka? Sama seperti kita, kita nggak akan nulis kalau kita emang nggak mulai, nah mulainya darimana? Mulainya bisa dari menulis hal-hal kecil yang ada di sekitar kita, atau menulis dari hal-hal yang sudah menumpuk di otak kita.
Oke, semangat menulis!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar