Kamis, 12 November 2015

Dokter Berduka

Selamat Hari Kesehatan Nasional untuk seluruh rakyat Indonesia. Di hari yang sama, 51 tahun lalu, Kementrian Kesehatan berdiri di negara ini. 12 November 1964. Lantas apa yang membuat kita berduka, hai para dokter dan calon dokter di hari berdirinya Kemenkes ini?

Tentu akan sangat banyak jawabannya mungkin. Mulai dari masalah BPJS yang masih tidak kunjung kelar, pemberitaan media tentang dokter yang semakin menjerat dan mengkiat kinerja dokter, hingga ke tataran kemahasiswaan terkait pendidikan profesi mungkin atau internship?

Internship, sebuah program pengabdian wajib bagi seluruh mahasiswa fakultas kedokteran pasca pendidikan profesi (koas/dokter muda) yang berlangsung sekitar satu tahun; dan dengan selesainya internship, maka seorang dokter akan mendapatkan kompensasi berupa diberikannya Surat Izin Praktik (SIP). Melalui sebuah grup whatsapp yang berisi sekumpulan dokter dan mahasiswa kedokteran alumni SMA saya, saya tahu bahwa program ini pun masih banyak kacaunya. Regulasi yang masih samar, pendanaan yang kurang dari pemerintah, sampai wahana yang kurang. Dan program ini pula yang seringkali membuat dokter-dokter umum menjadi pengangguran. Jadi jangan dikira, kami-kami yang mahasiswa kedokteran ini, lantas akan mudah mendapatkan pekerjaan menjadi dokter di rumah sakit besar. Pun di antara kami, ada pula kesulitan-kesulitan. Ada pula kendala-kendala untuk mencapai ke sana. Untuk bisa menjadi dokter di rumah sakit pun kami juga melamar kerja, memasukkan CV, interview, dan lain-lain. Tidak beda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Dokter juga melamar kerja. Dan yang lebih penting lagi, untuk melamar kerja, dokter membutuhkan SIP. dan untuk mendapatkan SIP, kami-kami ini harus melalui proses yang panjang dan lama; salah satunya internship.

Secara umum, internship diadakan sebagai bentuk pengabdian dokter di fasilitas kesehatan yang berada di daerah-daerah, meski ada pilihan daerahnya. Tapi tentu saja, untuk menunjang hidup di pedalaman itu, dokter diberi 'pesangon' 2,5 juta per bulan. itu yang saya tahu, dan sepertinya itu belum termasuk bayar asuransi dan lain-lain; karena dari pembahasan grup wa tadi, bahkan internship yang programnya bisa dibilang program pengabdian saja, support dana dari pemerintah tidak memadai.

Dan begitulah, hingga hari kemarin, kami mendapat kabar seorang dokter internship meninggal dengan diagnosis encephalitis post morbili. Dokter Andra, panggilannya. Beliau internship di daerah Maluku, Kep,Aru. yang transport keluar-masuk daerah tersebut sulit. Yang pengobatannya pun terkendala biaya. Kami berduka atas kepergian seorang teman sejawat kami dalam masa tugasnya di Maluku, dalam masa pengabdiannya bagi bangsa. Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan kepada-Nya lah kami kembali.

Selamat jalan dokter Andra, meski saya tidak mengenalmu. Tapi saya turut berduka cita. Semoga segala dosa diampuni, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan....

(mengenakan pita hitam)

Rincian kejadian (saya ambil dari grup profesi dokter Alumni SMA saya) : 

Hari ini kami mengikuti sebuah kisah lewat Group WA IDI Kaltim, tentang perjuangan seorang Dokter Internship di Kepulauan Aru.
Turut berduka cita … rest in peace dr Dionisius Giri Samudra

11 November 2015 (12.00 WITA)
Emergency Call untuk semua sejawat yang bisa membantu junior kita Dokter Internship di Maluku Tenggara.
Pasien a/n dr. Dionisius Giri Samudra. Dokter internship RSUD Cendrawasih Dobo, Maluku Tenggara Kepulauan Aru.
Kondisi saat ini: febris dengan penurunan kesadaran. Data trombosit: 50.000 Butuh segera evakuasi untuk mendapatkan perawatan selanjutnya di pusat pelayanan kesehatan lanjutan.

11 November 2015 (16.00 WITA)
Perkembangan terakhir:
1. Sarana transportasi semua sudah ready. Yang bermasalah adalah keadaan dr.Andra yg untransportable.
2. Pemerintah daerah telah membantu dengan maksimal mengenai transportasi dan segala sarana, intinya pemerintah daerah tidak lepas tangan, bahkan mereka yang mempersiapkan semuanya.
4. Diagnosis sementara masih encephalitis viral dd morbili
5. Ada dua orang Sp.PD yang di Dobo dan langsung menangani dr.Andra yang selalu terpantau.

11 November 2015 (17.00 WITA)
Perkembangan terakhir:
Pasien terintubasi dengan GCS e1m1v1, dengan Epinefrin 6mcg, TD: 87/65, N: 150, T: 40 derajat, saturasi: 80%.
Diagnosis sementara: Encephalitis.
Pasien rencana akan dirujuk ke Tual, namun tidak transportable. Namun orang tua tetap ingin dirujuk.
Demi patient safety, saat ini ditahan dulu di RSUD Dobo, jangan ditransport dulu, apalagi pakai speedboat, risiko ombak besar dan medan yg berat.

Perkembangan terakhir:
Sedang dikoordinasikan oleh 221:
1.Pesawat jet dari Halim Perdanakusuma direct to Timika dengan membawa team medis dari ER, Emergency Response group RS Bunda Jakarta.
2. Pesawat ATR dari Timika ke Dobo PP. Sedang menunggu availability pesawat2 tsb. Team medis menurut info sdh siap deploy dari Jakarta.
Tapi sementara ini, usahakan tetap stabilisasi pasien di RSUD Cendrawasih dengan semua kemampuan yang ada dan jangan ditransfer dulu.
Orangtua dr.Andra sudah di Dobo. Kondisi pasien belum dapat dipindahkan dengan aman karena dicari fasilitas transport yang aman.

Perkembangan terakhir:
Pesawat yang masih bisa landing di runway Dobo adalah sejenis ATR 42. Sudah coba dikontak ke semua unsur potensi penerbangan yang ada, baik charter flight, TNI-AU, POLRI. Sampai saat ini, belum ada airline yang berani menyanggupi untuk mendarat di Dobo dikarenakan panjang runwaynya pas-pas-an. Sekitar 1200 m, pilot banyak yang tidak berani ambil risiko. Untuk rute Halim Perdanakusuma to Timika, masih bisa dijangkau dengan charter flight jet. Untuk rute Timika to Dobo masih belum ada yang berani.

11 November 2015 (18.00 WITA)
Telah meninggal dunia. dr. Dionisius Giri Samudra (Andra), dokter Internsip penempatan RSUD Cenderawasih Dobo Kepulauan Aru. Penempatan periode Mei Tahun 2015, karena Encephalitis Post Morbilli. Meninggal di RS Dobo pukul 18:16 WIT. Rencana evakuasi jenazah akan dilakukan besok atas koordinasi Pemda Kabupaten Kepulauan Aru dan Pemda Kabupaten Tual.


-------------------------------------------------------------------------------------------------

catatan :
Sengaja saya post di blog, supaya hal ini tidak hanya jadi konsumsi kami-kami yang memang bergelut di profesi ini. Agar pemberitaan media tidak melulu tentang hal-hal negatif tentang dokter, entah itu tentangdokter yang lalai, tentang dokter dengan medical representation, atau hal-hal lainnya. Ketahuilah, di antara dokter-dokter yang diberitakan negatif, masih banyak dokter yang dedikatif terhadap profesinya. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar