Senin, 09 November 2015

Hujan siang tadi

Hujan turun sesiangan tadi. Bukan hanya rintik kecil yang numpang lewat; seolah menggoda manusia yang sudah beberapa pekan terakhir terpanggang oleh teriknya matahari siang. Siang tadi benar-benar hujan. H.U.J.A.N. Dan kini, hawa hujan masih tersisa. Mendung yang menggelantung di langit; petrichor yang menyeruak masuk ke hidung seketika pintu-pintu dan jendela-jendela ruangan di buka; juga hawa dingin yang menyapa kulit, merasuk masuk melalui celah-celah baju dan jaket.

Siang tadi benar-benar hujan. Dalam bulir yang besar. Deras. Lama. Menyenangkan mengetahui hujan kembali ke sini. Aku kira, ia sudah bosan untuk turun ke bumi, mengingat kini bumi sudah sangat rusak, juga -mungkin terlihat jelek dari atas sana. Aku lupa, kalau hujan juga berasal dari bumi.

Siang tadi benar-benar hujan. Menyenangkan rasanya menghirup petrichor yang sudah lama tak tercium. Hampir-hampir lupa betapa menenangkannya petrichor itu. Menyenangkan rasanya melihat mendung di langit-langit bumi; ia menandakan bahwa hujan tidak hanya sekali akan turun. Meski mendung belum tentu hujan. Dan hujan dapat turun tanpa mendung.

Siang tadi benar-benar hujan.


                                           Rindu ini sedikit terobati.


                                                                                   Allahumma shayyiban naafi'an.



------------------------------------------
Hari kemarin, usai hujan deras sesiangan.
Merindu hujan, merindu rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar