Senin, 29 Agustus 2016

Berita Pernikahan

Menyambung, dan menyempilkan dari postingan sebelumnya tentang wisuda, ternyata di tengah hiruk pikuk kabar wisuda ini, ada kabar yang nggak kalah bahagia datang dari seorang teman. Dirinya akan menikah bulan depan. Sejak dua pekan lalu, kita-kita (gycen) yang di jogja sudah mulai menebak-nebak siapa yang akan menikah. mulai dari si A lah, si M, si M kedua wkwkwk .. tapi memang nggak ada yang bener. Pikiran kita seringkali melayang pada ukhti-ukhti jilbab lebar kalo terkait dengan 'menikah muda', pada kenyataannya temen saya yang mau nikah ini bukan tipikal 'ukhti-ukhti berjilbab lebar dan ikut halaqah pekanan'. wkwkwk ...

wallahu a'lam kenapa, tapi pun di kampus, di kalangan teman-teman yang nggak berjilbab bahkan,  juga acapkali 'mbak-mbak yang sering ikut halaqah dan rajin datang pengajian' itu terlabel dengan 'pasti menikah muda'. Jadi, asa ada berita yang mau nikah, kita-kita, yang halaqah ini sering jadi tertuduh yang menikah duluan. Padahal mah ya, ternyata saya dan beberapa teman yang halaqah ini, udah keduluan kok sama teman-teman yang lainnya. Saya yang kalem ini juga udah keduluan sama yang lebih petakilan daripada saya (temen Mts sih ini). Terus, orang-orang semacam Nikari-yang-biasa-menasehati-tentang-pernikahan juga udah dilangkahi sama orang-orang yang mungkin lebih memilih 'jalanin aja dulu pernikahannya' wkwkw.

weleh, malah jadi rasis. Saya salut dengan teman-teman yang sudah mampu memutuskan untuk menikah lebih cepat dari kebanyakan orang. Yang menikah sambil kuliah, ataupun yang menikah sembari koas (kayak temen saya yang akan menikah bulan depan ini). kuliah dan koas ini sendiri bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Apalagi ditambah dengan rempah-rempah rumah tangga, yang juga pasti bukan hal yang mudah. Belum lagi yang sudah menikah, sambil kuliah, sambil organisasi, sambil kerja.

Dulu Fitri pernah tanya, yang saya juga nggak tau jawabannya apa, "Ty, gimana sih caranya tau kita siap nikah?" waktu itu saya jawab sembarang aja. Tapi mungkin, ketika kita siap nanti, akan tau sendiri. Ketika siap untuk memikirkan tidak hanya diri sendiri, tapi juga diri orang lain yang akan jadi pasangan kita, juga yang bakal jadi anak-anak kita nantinya. Saya juga nggak tau sebentuk siap menikah itu seperti apa. Kriteria umum dan khusus nya ada atau nggak. Tapi, saya jadi inget katanya Nikari, yang itu kata sepupunya, kira-kira begini redaksinya, "suatu saat nanti kita akan butuh untuk menikah, bukan karena teman-teman kita yang lain udah pada nikah atau bukan karena kita terus ditanya, 'kapan nikah?'"

Tapi, mungkin untuk mencapai kesiapan dan kebutuhan seperti yang dibilang Nikari, butuh tahapan, dan butuh kejadian, apapun kejadiannya. Dan masing-masing orang berbeda. Jadi mungkin, pertanyaan "Apa sih yang membuat seseorang siap menikah?" tidak bisa ditanyakan ke orang lain. Tapi ditanyakan pada diri sendiri.

Btw, baarakallahulakumaa wa baaraka 'alaykuma wa jama'a baynakumaa fii khayr Eja dan calon suami :) Pernikahan ke -5. maaf ya, kami bahkan nggak terbersit sedikit pun kalo kamu yang bakal nikah --" . semoga dilancarkan segala urusan sampai hari H dan seterusnya.

6 komentar:

  1. Tyani paraaaaaaah

    Eja ke enam tau tyyyyy wkwkwk (dan jadi rasis jg hahaha)

    Btw aku pernah telponan ama nda. Pas itu dia blg tentang menikah kalo butuh...untuk menjaga diri. Pankapan kl ketemu ngobrol ini yaa hahaha.*padahal kmrn kita ketemu..tp motornya aja haha

    BalasHapus
  2. Waaah, Eja nikahan bulan depan? Heu, coba bulan depan udah pulang :"

    Tapi nikah emang nggak liat dia petakilan atau nggak sih ya. Kalo Allah udah ridho ya mau apa juga jadi. *pengalaman jadi orang rasis juga haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Niiis di line udah ramee.nisq ngga d grup line kaah?

      Hapus
    2. iyaa, aku nggak di grup line gycen ^^a kudet banget yah haha

      Hapus