Rabu, 10 Agustus 2016

Kebersihan Sebagian dari Iman

Seminggu lagi Kak Nda akan masuk SMP di sebuah pondok pesantren. Dan hari ini Bunda mengajak Kak Nda belanja kebutuhan untuk sebulan. Tadinya, Bunda hanya mengajak Kak Nda biar nggak ramai. Tapi eh tapi, entah kenapa semuanya jadi ikut. Adik yang pertama rewel minta diajak, akhirnya Abi memutuskan belanjanya habis Abi pulang dari kantor. Dan jadilah semua ikut, bahkan Bang Dya yang sebenarnya diam saja.

"Sini Kak, Kakak mau deterjen yang kayak gimana?" Panggil Bunda. Kak Nda menghampiri diikuti Adik.

"Nggak tau Bun, baiknya yang kayak gimana? Kalau yang kayak di rumah gimana?" Kak Nda balik bertanya.

"Hmm, kalau di rumah kan kita pakai mesin cuci. Kalau besok Kakak di pondok nggak ada mesin cuci, Kak. Harus nyuci sendiri pakai tangan, kayak pas dulu Bunda ajarin. Jadi, milih deterjennya yang nggak panas di tangan aja. Nah, misalnya ini." Bunda mengambil satu deterjen dari jejeran deterjen.

"Hmm, wangi ya Bun!" Seru Adik tiba-tiba.

Bunda tersenyum, "Iya Dik, wangi. Tapi ya Kak, Dik, sewangi apa pun deterjennya, kalo kita bilasnya nggak bersih, jemurnya belum kering udah diambil, atau bahkan jemurnya kelamaan sampai berhari-hari, baunya malah jadi apek."

"Oh gitu Bun?" Ujar Kak Nda dan Adik hampir bersamaan.

"Kakak kispray-nya mau yang mana?" Tanya Bunda lagi.

"Hmm, yang mana Bun. Kakak bingung. Banyak banget yang harus dipilih. Deterjen, kispray, pewangi, shampoo, sabun, odol ..." Kak Nda mulai menghitung dengan jarinya.

Bunda tertawa kecil, "Kan Kak Nda bakal hidup nggak sama Bunda sampai tiga tahun ke depan. Jadi nanti, untuk bulan-bulan berikutnya Kakak nggak bingung lagi kalau menentukan mau pakai deterjen yang mana, sabun yang mana, sampo yang mana, daan lain hal. Ini baru Kakak mau masuk pondok, belum kalo Kak Nda nanti jadi ibu, lebih banyak lagi Kak yang harus dibeli dan dipilih sebaik mungkin untuk keluarga." Jelas Bunda.

"Iih, Bunda, Kak Nda masuk SMP aja belum..." protes Kak Nda. Bunda tertawa lagi. Sebenarnya ada sesak sedikit terselip dalam tawa Bunda. Belum rela melepas anak sulungnya untuk hidup jauh dari dirinya.

"Kak, shampo-nya mau disamain aja sama di rumah?" Tanya Bunda lagi.

"Iya deh Bun, Kakak bingung sih."

"Kak, nanti pas di pondok itu, kegiatan dan jadwalnya kan sudah diatur. Jadi, Kak Nda dikira-kira ya waktunya cukup atau nggak kalau mau shampo-an. Jangan rambutnya masih basah, eh gara-gara mepet mau kegiatan terus langsung pakai jilbab, Nanti malah Kakak bisa pusing. Bisa ketombean jiga Kak rambutnya kalau kayak gitu. Bahkan mungkin bisa kutuan. Kakak nggak mau kan rambutnya kutuan? Nanti gatel terus loh."

"Hiii, nggak mau Buun.."

"Iiih, kutuuu..." seru Adik menambah dramatis pernyataan Bunda.

"Tapi, jangan nggak keramasan juga cuma gara-gara kegiatannya sangat padat. Sepadat-padatnya kegiatan, kalau kita mau meluangkan waktu pasti ada waktu kok Kak. Paling nggak tiga hari sekali lah ya keramas. Jangan nggak keramas, nanti bau rambutnya, eh malah mendzholimi temen sekamar."

"Iya, Bun ..."

"Kalau kata pepatah arab, Kak, menjaga kebersihan itu sebagian dari iman. Dengan menjaga kebersihan lingkungan, kita jadi nyaman buat beribadah, buat belajar, juga buat istirahat. Tapi Kak, jangan lupa juga untuk menjaga kebersihan diri. Dengan menjaga kebersihan diri, kita menjaga hubungan kita dengan orang lain; karena orang lain nyaman dengan kita yang bersih."

"Menjaga hubungan itu maksudnya gimana Bun?" Celetuk Adik tiba-tiba.

"Iya Adik, coba deh misalnya, Bunda nggak mandi berhari-hariii, terus nggak nggak ganti baju berharii-hari, nggak keramas, nggak sikat gigi, pokoknya jorok deh. Adik mau nggak deket-deket sama Bunda?"

"Hiii ... berkutu lho Bunda!" Seru Adik,

"Hahaha, iya gitu jadi Kak, Dik. Dengan menjaga kebersihan diri sendiri kita sedang memberikan hak tubuh kita, juga sedang menjaga persahabatan kita dengan orang lain. Dan lagi ya Kak, kita kan nggak tau jalan rejeki kita, bisa jadi dengan menjaga kebersihan ini ada rejeki yang Allah kasih ke kita."

"Eh maksudnya gimana Bun?" kali ini Kak Nda yang bingung.

"Jadi, siapa tau orang yang nyaman dengan kita karena diri kita bersih, itulah yang akan membantu kita waktu kita susah, ya kan nggak tau kan Kak?"

"Ooh .." Kak Nda manggut-manggut. Pun Adik, meski masih belum terlalu paham penjelasan Bunda. Bunda gemas, kemudian mengelus-elus kepala Kak Nda dan Adik.

"Bun, udah belum belanjanya? Abang laper Bun ..." Tiba-tiba Bang Dya yang sedari tadi liat-liat alat tulis ditemani Abi datang menghampiri. Mungkin lelah menunggu ketiga perempuan ini belanja sekaligus ngobrol.

"Ahaha, sudah yuk. Sudah semua kan ya Kak Nda? Kita makan habis ini." Ajak Bunda.

"Ayuk Buun!" Jawab Kak Nda dan Adik. 

*** 

Untuk Kak Nda, Bang Dya, dan Adik, selamat mengeksplor dunia :)
Menjaga kebersihan berarti kita sedang menunaikan hak atas diri sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar