Selasa, 24 Februari 2015

Surat Cinta dari Seorang Teman : Pintu Pertama

22 Februari 2015

Barangkali aku dan kau sama.  Aku dan kau-kita. Kita adalah orang yang berasal dari koloni evolusi hemisfer dextra. Kita adalah lulusan departemen hipersomnia. Kita adalah agen rahasia dari akademi DLN (Dead Liners). Kita adalah perawan terhadap kantin medika satu. Kita adalah imigran dari kota kubu buku (kalau tidak bisa pulang, kita akan pergi ke toga mas); (untuk sekedar mengobati homesick). Kita adalah pemburu sendok-garpu di restoran Jepang karena payah sumpit. Dan kita adalah Dzawin Rangers yang tertawa melihat humor cerdas paduan pesanteren dan isu masa kini.

Barangkali aku dan kau sama. Jika dihadapkan dengan Harrison dan Ilana Tan, mana yang kau pilih? Jika dihadapkan dengan lembar laporan patologi anatomi dan HVS kosong-yang bisa ditulisi beberapa imajinasi dan delusi fiktif secara bebas-mana yang kau pilih? Atau jika dihadapkan dengan rekaman kuliah dan lagu Taylor Swift, mana yang kau pilih?
Hanya saja, kita sudah memilih pintu pertama dan pilihan pertamalah yang harus kita tinjau terlebih dahulu. Meski sedikit lebih sulit, apakah kita bisa mengabaikannya begitu saja?
Pintu pertama telah terbuka. Pintu itu sudah terlanjur terbuka, meski itu terjadi karena kita sekadar mengintip saja.

Orang tua. Saudara. Tetangga. Teman.

Mereka semua percaya dan menunggu masa depan kita dari sini. Ambil satu contoh. Mas Eja. Dia sakit panas. Demam. Kau bahkan bukan Bye-Bye fever atau paracetamol, tapi dia mempercayakan demamnya-masalahnya, padamu. Bagaimanapun dia percaya bahwa kau mampu diandalkan dan itulah yang akan orang-orang pahami  begitu namamu disebut.
Apa yang paling kau khawatirkan? Darah-ups, maaf. Dokter Martin Ellingham dalam serial Doc Martin juga memiliki Haemophobia sama sepertimu. Dan dokter itu justru nekat bekerja sebagai vascular surgeon di Imperial College London. Memang hanya film. Orang bilang dunia nyata itu berbeda dengan Film! Hei, tapi toh zaman sekarnag semuanya-keduanya-berbeda tipis atau bahkan saling terbalik. Banyak fiksi yang tercipta dari fakta. Dan adapun fakta yang diimbuhi fiksi agar tampak lebih menarik. Kebohongan seakan bukan lagi dosa. Justru tabu jika dunia tetap bertahan sebagai perjaka jujur yang masih belum pubertas.

Karena sebagai manusia, kita daiajarkan untuk selalu bersyukur, maka syukurilah phobiamu itu. Kau berharap untuk tidak melihat cairan itu, lalu bagaiman dengan para dokter yang buta warna? Mereka justru menawarkan apapun demi melihat warna merah. Ada website bernama colourmed.com (kebetulan aku pernah mampir karena curiga apakah aku ini benar-benar normal atau tidak. Abu-abu = oranye), di sana adalah tempat para dokter merindukan warna merah, ingin meliha erytema pada kulit pasien atau warna erytrosit lewat mikroskop binocular. Jadi, apapun itu syukuri saja.

Ingatlah bahwa kata hatimu memilih untuk bertahan di sini. Seperti kata coach Taylor dalam Friday Light Nights : You listen to people that love you and you listen to people that you trust. Most of all, you listen yourself. Jadi, di sinilah kau berada sekarang, berkat kata hatimu sendiri. Kau bukannya salah jurusan atau sedang tersesat. Kau bukannya duduk di kursi yang kebetulan tersisa di sni, tapi kursi itu memang tersedia untukmu. Ada nametag di bagian posterior kursi. Setyani bacanya. Sebenarnya ada imbuhan –Cho di belakangnya, tapi sudah dicoret panitia karena namamu yang dibuthukan harus legal, bukan display name di whatsapp.

Kuberitahu, hidup ini lucu. Katakanlah ada 2 pintu di depanmu.

Satu pintu menuju masa depan sebagai dokter dan satu pintu lainnya berisi impian besarmu yang lain-hal yang benar-benar kau sukai setengah mati dan tidak akan pernah bosan kau lakukan. Lalu kau memilih pintu pertama, mengetuknya (dan Tuhan mempersilahkanmu masuk dengan cara yang paling baik), membukanya, dan mengintipnya sebentar. Kemudian kau masuk dan melihat tempat duduk di tribun depan sudah terisi. Kau melihat ada seorang gadis dengan (katakanlah) baju warna orange abu-abu, dia duduk tidak terallu depan ataupun terlalu belakang, tempat duduk teraman-nyaman yang ada di sana. Dan kau memilih untuk berhenti kemudian duduuk di sebelahnya. Gadis itu mencintai Indonesia, Jepang, dan sekitarnya (baca : Korea Selatan); mencintai Teenlit karena itu membuatnya bertahan untuk berjiwa remaja dan melupakan sejenak beban sebagai orang dewasa; mencintai endorfin yang dihasilkan saat tertawa; serta agak berlebihan dalam beberapa hal.

Setelah berkenalan, kau mulai mendengarkan dokter berbicara di depan sana, dengan background .ppt yang sudah diaktifkan mode slide show-nya. Belakangan, rasanya SONY lebih menarik perhatianmu daripada presentasi yang ada di depan sana. Dan kelihatannya kau mulai bosan dan menyesal sudah memilih masuk ke pintu pertama, bukannya pintu kedua.

Hei, tapi cobalah ingat bahwa kursi itu sengaja disediakan untukmu. Dan kalaupun kau semenyesal itu harus mengikuti jadawl kelewat padat, bisakah kau menganggap, ketika kau membuka pintu itu, kau tidak salah sama sekali? Karena dengan memilih pintu pertama, kau bisa bertemu dengan orang yang duduk di sebelahmu, ET yang mungkin satu planet denganmu dan kau bisa mendengarnya bicara, “Ty, kalau nyanyi itu diikutin nadanya, jangan bikin nada sendiri kayak gitu. Ayo ulangi lagi. Satu-dua-tiga!”

Hidup itu lucu. Tidak ada langkah yang salah. Kau bertemu denganku. Itu langkah yang benar dan kau tidak salah jurusan. Karena kalau kau salah, aku juga salah. Sementara aku tidak merasa salah sama sekali di sini. Semoga.

Kuberitahu sekali lagi. Kau tidak sedang tersesat, Nona. Tetap lihat ke arah depan dan berjalan maju. Akan kuusahakan tetap berada di sebelahmu sampai nanti. Jadi, teruslah berusaha, Kau yang berasal dari Bintang yang sama ...

flazia
 -------------------------------------------------------------------------------------------------

Surat ini aslinya ditulis tangan sebanyak 5 halaman kertas A5, terselip di antara halaman-halaman buku Filosofi Kopi yang dikembalikannya pada hari itu. Saya ketik ulang tanpa mengubah setiap ejaan yang ia gunakan-bahkan yang salah-hanya untuk kepuasan hati, hanya untuk menyerap setiap kata yang menjadi dukungannya buat saya-dengan baik, agar saya mampu mencerna setiap huruf yang ia tulis dengan tulisan khasnya di tiap lembar kertas yang berwarna kuning, yang saya yakin ia sobek dari buku catatan yang selama ini ia pakai untuk menulis hal selain kuliah. Apapun alasannya, termasuk alasan belum menyelesaikan proposal skripsi, saya rasanya senang menerima "kado" yang ia berikan untuk saya. "kado" dukungan moriil yang, jujur saja, sedang sangat saya butuhkan untuk tetap menapak di jalan saya saat ini ...

Minggu, 15 Februari 2015

Ketakutan-ketakutan

Dua minggu sudah berjalan sejak hari pertama saya masuk semester 6. Semester 6 ya ... Semester depan semester 7, setelah itu koas. kira-kira satu tahun lagi, purna sudah masa studi saya di S1, setelah itu lanjut studi profesi sebagai dokter muda atau yang lebih dikenal dengan sebutan koas?

Sejak saya memutuskn utnuk masuk fakultas kedokteran 2,5 tahun lalu, saya tahu, hidup saya di kampus nggak akan mudah, karena saya takut darah. Dan, yah ternyata ada lebih banyak ketakutan di samping hanya takut darah, yang saya baru sadari ketika saya masuk kuliah. Mungkin, saya berasarama selama 6 tahun ikut ambil dalam terbentuknya rasa takut saya. Atau sayanya yang emang terlalu penakut?

Di kampus yang kehidupannya sama sekali tidak ideal, setiap harinya selalu berubah, setiap harinya ada hal baru, dan setiap harinya selalu ada ketakutan baru yang muncul. Dan semakin dekat dengan kelulusan, beberapa ketakutan menjadi tampak nyata dan jelas.

Misalnya saja, bahwa ketika menjadi dokter, saya harus berhadapan dengan pasien, memberi tindakan medis, terapi dan edukasi. Saya takut, bagaimana jika saya terlalu lambat mendiagnosis, atau bahkan lebih buruk lagi, saya salah diagnosis, bagaimana jika saya salah memberi tindakan dan/atau obat untuk pasien? Bagaimana jika, ketika dalam masa perawatan dengan saya, ada pasien yang meninggal karena saya salah memberikan obat? atau karena saya salah mendiagnosis?

Itu hanya sepersekian ketakutan saya. Dan setiap satu ketakutan muncul, akan ada ketakutan-ketaukan lain yang mengikuti. Jujur, saya takut. Saya takut untuk jadi mahasiswa profesi, saya takut untuk jadi dokter. Bahkan, untuk sekadar ICP (integrted Clinical Practice atau semacam magang?) di puskemas daerah saja, saya takut. Dan semakin dekat dengan kelulusan, setiap ketakutan saya, menjadi tampak lebih nyata, dan lebih dekat.

Orang bilang, mungkin, saya memiliki kadar anxietas yang agak berlebih dibanding orang kebiasaan, yang mungkin kalau sudah parah, akan bisa membawa saya pada diagnosis mengidap gangguan kepribadian anxiety disorder. Dan karenanya, ada yang bilang, saya keliatan kayak orang depresi. Haha .. calon dokter yang depresi?

Sekarang saya percaya bahwa, tidak ada hal yang baik yang datang dari pengumuman keterima di fakultas kedokteran, selain pengumuman itu sendiri, hahaha ...

Waktu saya bilang, ke Bapak dengan gamblang melalui telpon bahwa saya takut jadi dokter, bapak cuma tanya " terus, kalo nggak jadi dokter kamu mau jadi apa?" sya jawab aja, "nggak tau pak, jadi cleaning service mungkin..." Desperate. Saya mengutrakan setiap ketakutan saya, setiap kembimbangan, keraguan dan kecemasan sampai berurai air mata, karena emang mata saya lagi sakit dan ngantuk hahaha ...

Bapak cuma bilang, "kamu bakat jadi dukun, dek" ... hahaha ... saya percaya sih kalo yang ini, bapak melanjutkan, "karena kamu selalu memprediksi hal-hal yang bahkan belum terjadi di kehidupanmu, jadi dukun aja sono .." hahaha, saran diterima. haha ... iya, dan buruknya lagi, saya selalu memprediksi hal-hal buruk. Mungkin, maskud saya adalah saya ingin mengantisipasi hal terburuk yang akan terjadi, tapi bukannya mengantisapasi dengan segera, sebaliknya, justru ketakuta atas pemikiran-pemikiran saya sendiri itu jauh lebih kuat menguasai diri saya, ketimbang diri saya mengantisipasi ... dan sekali lai, saya harus memakai kata-kata ini, "tidak ada hal baik datang dari memikirkan hal buruk, apalagi hal yang terburuk ..." hahaha ...

ketakutan itu seringkali datang karena pemikiran-pemikiran diri sendiri yang melebih-lebihkan kejadian yang sbeenarnya. otak memanipulasinya, memberi bumbu, sehingga permasalahan kecil terlihat lebih besar dari seharusnya. Karena, ternyata, ketika hal-hal yang kita takuti kita jalani, itu biasa saja ... tidak semengerikan yang pernah saya pikirkan.

Kita hidup hari ini. Walaupun masa depan menanti kita. Tapi, kita hidup hari ini. Yang perlu dikhawatirkan adalah hari ini lebih baik dari kemarin atau tidak?  Karena menghadapi dan mnjalani setiap ketakutan kita di hari ini berkali-kali lipat jauh lebih mudah daripada memikirkannya ... kalau kata bapak, karena masalah ada untuk dihadapi, bukan untuk dipikirkan ...

karena kita hidup hari ini. Hari ini, mungkin saya bilang, saya takut jadi dokter. karena hari ini, saya memikirkan setiap ketakutan dan masalah yang otak saya nggak bisa sampai pada penyelesaian dan solusi dari masalah tersebut. Tapi, mungkin beda ceritanya ketika nanti lisensi dokter sudah saya kantongi, ketika sumpah dokter sudah saya ucapkan, mungkin sudah beda ceritanya ... dan mungkin di hari itu, saya sudah punya jawaban dari setiap ketakutan saya hari ini.

Saya akan jadi dokter.

Rabu, 21 Januari 2015

Selagi bisa, rasanya aku ingin menikmati setiap detiknya.
Suara denting sendok, garpu, piring dan peralatan masak dari dapur
Suara ribut televisi di ruang depan
Suara musik yang berbeda dari tiap-tiap komputer yang menyala
Suara  gemericik air dari kamar mandi
Suara tiap-tiap orang membuka pintu kamarnya

Dan juga suara Ibu yang ngomel, suara bapak yang bercanda, suara mbak yang mengeluh, dan suara mas yang selalu bertanya kabar ketika masuk kamarku

Selagi bisa, aku ingin mensyukurinya ...

Selasa, 06 Januari 2015

Aku tahu bahagia ini hanya sesaat. Ketika kita bisa tersenyum atau tertawa bersama-sama. Ketika kita bisa merasa tenang tanpa beban. Ketika kita bisa saling memandang satu sama lain, bercengkrama dengan ramai.

Bahagia ini hanya sesaat, sebagaimana waktu-waktu sedih yang juga hanya sesaat kita lewati.
Waktu-waktu sedih dimana air mata dari kelenjar lacrimale kita tak lagi mampu terbendung, hingga akhirnya mendesak turun mengalir di pipi kita, waktu-waktu sedih dimana rasanya dada menjadi sesak, sekalipun sebenarnya kita tak punya penyakit asthma atau jantung, waktu-waktu sedih dimana kepala kita terasa berat hingga rasanya ingin menunduk terus, sayu.

Dan, waktu-waktu sedih itu juga hanya sesaat.

Karena setiap sedih maupun bahagia semuanya hanya sesaat kita lalui, tapi konstan terjadi dalam hidup kita. Bergantian, saling melengkapi, seperti dua mata koin. Sekali waktu menghadap ke arah burung garuda, sekali waktu ke arah dimana terdapat angka yang menunjukkan nominal.

Dan sekalipun hanya sesaat, terkadang waktu-waktu sedih terasa lebih lama ketimbang waktu bahagia. Duh, kawan, karena setiap kali kita bahagia waktu memang terasa lebih cepat ketimbang kejapan mata. Sebaliknya, ketika sedih, seolah jam tak mau berputar hingga siang terasa memanjang dan malam terasa tak ada akhir.

Duh, kawan, tapi yang namanya waktu itu memang sebuah relativitas, atau pruralitas? Ia bergantung pada siapa yang melewatinya. Ia bergantung padaku, padamu, pada kita, bagaimana kita menghabiskannya: dengan sedihkah? dengan bahagiakah? itu bergantung padaku, padamu, pada kita apakah akan menganggapnya sebagai ‘lama’ atau ‘sebentar’.

Bisa jadi, ketika waktu-waktu sedih itu aku anggap hanya sebentar, ternyata kau anggap itu sebagai tiada akhir. Dan bisa jadi waktu-waktu bahagia yang kuanggap hanya seperti kejapan mata itu kau anggap seperti melewati waktu ribuan tahun.

Tapi, yakinlah kawan, ‘lama’ atau ‘sebentar’ nya waktu itu selalu ada sedih dan bahagia. Jadi, jika kau sedih, ingatlah bahwa ada bahagia setelahnya … :)

"Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-insyirah (94): 5-6)

Depok, 6 Januari 2014

Senin, 05 Januari 2015

Sudah 5 tahun ternyata ...

Dengan bergantinya tahun 2014 menjadi tahun 2015, ternyata saya sudah 5 tahun berkecimpung di dunia blogging. sejak 2010, eh 2009 ding, tapi waktu 2009 blognya masih dimultiply dengan url yang sama, sayangnya, domain multiply sekarang sudah nggak bisa dipakai lagi buat blogging, dan yang saya sesali adalah ada banyak cerita saya di sana yang belum sempat saya dokumentasikan sebagai dokumentasi pribadi, padahal banyak cerita-cerita waktu saya masih MTs dulu ... ceritanya santri :)

tahun 2010 saya bikin blog ini, tapi tulisan yang di multiply nggak saya pindah. Kalau baca postingan-postingan jadul, banyakan alay sih, hahaha, terus yah banyakan curcol juga, belum tentu bernilai juga kalau dibaca. yah belum tentu ada yang baca juga hehe ...

Kayaknya ada beberapa cerpen teenlit alay yang saya malu bacanya lagi di postingan awal-awal saya bikin blog hahahaha ... ada juga curcol yang sok bijak, ada juga kisah pengalaman nggak penting, ada juga cerita tentang temen-temen satu kelas ... ahahahaha .. makin diinget makin bikin ketawa, makin nunjukkin kalau saya belum jadi penulis yang bermutu ... --a

tapi, sama seperti pertanyaan, "jika diberi kemampuan untuk mengulang waktu, apa yang ingin kau ubah?", jawabannya adalah "tidak ada yang ingin aku ubah". Maka, tulisan-tulisan yang teenlit alay itu, curcol nggak penting itu, ceota tentang temen-temn satu kelas itu juga nggak ingin saya hapus, blog ini udah berjalan bersama saya sejak saya di IC, dimana banyak momen-momen yang nggak cukup jika hanya direkam dengan otak saya, momen-momen itu yang saya bagikan ke temen-temen saya, supaya yang merekamnya tidak hanya saya, tapi juga teman-teman saya ...

Kalau saya baca dari awal, postingan-postingan saya menggambarkan betapa saya telah tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih positif, saya rasa. :)

Makanya, saya nggak mau menghapus postingan-postingan alay saya, karena itu bagian dari kehidupan saya, bagian dari rekam jejak hidup saya ...:)

Sabtu, 03 Januari 2015

Kuliah dan Passion

Waktu kelas tiga SMA, banyak yang mewanti-wanti untuk memilih jurusan sesuai passion. Sampai dulu bertanya-tanya ke banyak orang tentang definisi passion. Ingat betul betapa saat-saat itu terasa euforia ingin masuk kampusnya, mengejar kampus paling favorit, mengejar jurusan favorit Yang katanya idaman mertualah, idaman istri suami, terserahlah siapa itu .... Hadeeuuh padahal sudah dibilang untuk memilih sesuai passion.

Passion. Apa sih passion itu?

Well, saya juga nggak tau definisi tepatnya apa, pun juga saya nggak merasa ingin untuk berepot-repot ria mencarinya di oxford dictionary. Saya punya definis paling prakris untuk passion yang saya dapat dari salah satu karyawan Bapak dulu, bahwa passion adalah, "sesuatu yang kalo kamu disuruh mengerjakannya tanpa dibayar kamu suka dan pasti kamu lakuin. Nggak dibayar aja kamu lakuin, apalagi dibayar ..." Jadi, sampai detik ini itu definisi passion yang saya pegang.

Saya dulu mikir, sesuatu yang kita suka itu kan hobbi ya? Apa enaknya menjadikan hobbi kita menjadi suatu pekerjaan? Apa nggak bikin kita malah jadi jenuh buat ngelakuinnya? Tapi, itu dulu ... Sekarang saya tahu, kalau itu nggak sepenuhnya benar, karena ketika kita melakukani sesuatu hal dan kemudian merasa jenuh, maka hanya butuh sedikit pengalih perhatian untuk akhirnya kembali melakukannya. Sementata jika pekerjaan tersebut aja nggak kita sukai, terus kita jenuh ... Yaudah ... Mau "istirahat" pun pada akhirnya belum tentu kembali bekerja, prognosis terburuknya adalah benar-benar cabut dari pekerjaannya.

Kenapa tiba-tiba saya nulis tentang passion dan kuliah padahal saya udah di tahun ketiga?

Karena saya masih ngerasa  nggak sreg di jurusan ini walaupun ini udah tahun ketiga saya kuliah. Saya ngerasa nggak sreg bukan berarti saya pengen menarik diri dari dunia perkuliahan dan dengan tidak bertanggungjawab meninggalkan semuanya tanpa selesai. (Halah, bahasanya buu ...). Saya hanya sedang mencoba mencintai apa yang saya lakukan saat ini.

Well, karena saya baru tahu, bahwa passion nggak serta merta datang di saat yang tepat, kadang ia datang di saat yang tidak tepat pula (yah namanya juga cinta ... Kayak lagunya fathim sidqia lubis itu lhoo *yangmanapulak*). Bersyukurlah bila kita tahu apa yang kita sukai dan apa yang ingin kita lakukan sebelum masuk dunia kampus. Karena dengan begitu jadi bisa mengasah kemampuan kita sesuai passion, hingga pekerjaan yang kita sukai bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk khalayak.

Tapi, buat orang-orang seperti saya yang ketika udah masuk kuliah baru sadar bahwa di jurusan ini bukan passionnya, nggak masalah. Udah berapa kali saya "jatuh" terjerembab berguling-guling, keasyikan istirahat sampe lupa kalo saya lagi kuliah ... Di jurusan yang mainnya pakai nyawa manusia pula.

Nggak masalah. Mungkin memang tempat ini saat ini bukan tempat yang cocok untuk kita, hanya karena kita merasa punya "modal" untuk masuk jurusan ini, kemudian kita dengan keukeuhnya memilih jurusan ini, dan pada akhirnya memilih mengabaikan passion.

Aah ... Urusan ini untuk beberapa orang seperti saya, baru sadar di tengah-tengah, lantas seolah sudah putus harapan. Ketika merasa tidak cocok, tidak nyaman berada di tengah-tengah segala urusan yang berhubungan dengan displin ilmu yang sedang kita pelajari, pada akhirnya selalu berpikiran negatif tentang diri sendiri.

Tapi, saya, atau kamu masih punya senjata sebagai orang muslim. Bersyukur. Cukup syukuri karena kita msih bisa kuliah, bersyukur kita masih diterima di jurusan favorit di universitas favorit. Bersyukur karena kita masih diberi nikmat untuk menimba ilmu. Dengan bersyukur, hati kita menjadi lebih lapamg, dengan bersyukur kita akan belajar menerima apa yang ada pada diri kita, dan dengan begitu pula kita jadi belajar mencintai apa yang ada di diri kita, termasuk memilih untuk tetap bertahan di jurusn ini .. :)



Bersyukur ...:)

Dear, KaLAM 1435 H ...

Dear, teman-teman seperjuangan di KaLAM 1435 H ... Sudah berakhir ya ternyata kepengurusan kita selama 1 tahun ke belakang?

Waktu berlalu dengan cepat tanpa terasa, seolah waktu-waktu yang kita gunakan hilang dalam satu kejapan mata. Kalau review ke belakang, sejujurnya, saya merasa, ketimbang senyum, di sana lebih banyak air mata yang tumpah ... Bahkan sejak Mubes 1435 berlangsung.

Tahun lalu, berapa orang yang keluar masuk ruangan Mubes untuk nangis? Berapa orang yang menahan tangisnya berusaha menguatkan dirinya dan saudaranya untuk tetap bertahan di jalan ini.

Pun, di tengah-tengah perjalanan kapal kita, ada terlalu banyak air mata terbuang. Ahahaha, andai kita lebih enjoy dengan kapal kita, andai kita lebih saling mengerti antara satu awak dengan yang lain, andai kita tidak menyimpan semua beban kita sendirian dan sadar bahwa kapal ini tak mungkin jalan dengan optimal hanya dengan separuh orang yang mendayungnya, pun tak akan maju hanya dengan kita mendiskusikan bagaimana caranya kapal ini berjalan, andai kita sadar bahwa jika kita punya kapal sendiri yang harus kita jalankan, yang bisa jadi rumah kita dan di saat bersamaan mungkin tempat kita meletakkan batu pertama untuk fondasi mimpi-mimpi kita ...

well, itu hanya andai-andai... yah tapi andai kita tahu itu sejak kapal kita ini mulai berlayar .. Tapi sayangnya, kapal kita sudah berlabuh sekarang, dan awak-awak baru sudah mempersiapkan pasukan barunya, saat ini mereka sedang mengkonsolidasikan pasukan mereka untuk bersiap mengarungi samudra yang luas setahun ke depan, sama seperti kita dulu ...

Dan sayangnya, kita baru sadar di akhir, bahwa perjalanan ini sedikit menyenangkan ternyata, dan betapa bersama kalian di kapal ini seringkali menguatkan hati ...

Aah ... ya sudahlah, paling tidak, sekalipun di akhir, kita sadar betapa perjalanan setahun ke belakang memberikan banyak pelajaran untuk kita, iya kan? Mulai dari belajar menerima dan memahami satu sama lain, belajar untuk memanajemen organisasi, belajar untuk mengayomi adik-adik yang punya kapasitas semangat yang luar biasa (itu juga kan yang membuat kita bertahan di tengah-tengah samudera yang luas ini), belajar mengatasi realita yang tidak sesuai dengan idealita ...

Samudera yang kita arungi memang berombak, makanya kadang-kadang ketika pun iman kita sedang turun secara bersamaan, maka kapal kita juga terseret oleh ombak entah hingga kemana. Kadang-kadang, karena sudah terlalu lama mendayung kapal ini kita juga suka lupa tujuan utama kita, hingga lelah datang menyerang, kalau saat itu kiat berjalan sendiri-sendiri sudah barangtentu kita akan terseret ombak semakin jauh dari tujuan kita.

Tapi, kalian ada di sana. Saling menguatkan, saling mengingatkan bahwa kita masih jauh dari tujuan, kalau kita berhenti di sini, siapa yang akan melanjutkan kapal ini ...

ya karena kita masih jauh dari tujuan kita, ustadziyatul 'alam ...

makanya, kita nggak boleh capek di sini, nggak boleh berhenti di sini sekalipun kapal kita sudah berlabuh, masih ada kapal lain menanti kita untuk berlayar bersama kembali ...

Nanti saja lelahnya, nanti saja berhentinya, ketika kita sudah sampai di surga-Nya Allah .. :)

dear, teman-teman KaLAM 1435H ... tetap semangat ya, tetap bergerak untuk memberikan manfaat untuk orang lain, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya ...

dear, teman-teman KaLAM 1435H ... jika kita bisa berkumpul lagi dalam satu lingkaran yang sama, semoga itu adalah surga-Nya Allah yang paling indah :)